
PERKEMBANGAN industri kreatif melahirkan semakin banyak pekerja berbasis proyek, mulai dari penyunting film, pekerja produksi, hingga kreator digital. Namun, pola pendapatan yang tidak tetap masih menjadi tantangan bagi sebagian freelancer untuk mengakses layanan keuangan formal.
Melihat kondisi tersebut, Amar Bank menilai diperlukan pendekatan finansial yang lebih sesuai dengan karakter pekerja industri kreatif. Melalui penguatan ekosistem keuangan digital, Amar Bank mendorong para freelancer agar memiliki pengelolaan keuangan yang lebih tertata dan semakin bankable.
Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane, mengatakan perubahan pola kerja saat ini membuat semakin banyak masyarakat memperoleh pendapatan melalui sistem proyek, bukan lagi hanya melalui penghasilan bulanan tetap.
Menurutnya, karakter pendapatan seperti ini membutuhkan cara pengelolaan keuangan yang berbeda. Salah satu tantangan utama yang sering ditemui adalah bagaimana pekerja kreatif dapat membedakan antara uang proyek, biaya operasional, serta pendapatan pribadi.
“Sering kali ketika mendapatkan nilai proyek yang besar, semuanya terlihat seperti pendapatan. Padahal di dalamnya ada berbagai komponen biaya yang harus dihitung,” ujar Josua di Jakarta belum lama ini.
Ia mencontohkan, sebuah proyek dengan nilai Rp50 juta tidak sepenuhnya menjadi pendapatan bersih bagi pekerja kreatif. Nilai tersebut dapat mencakup berbagai kebutuhan seperti pembayaran assistant, biaya transportasi, konsumsi, studio, hingga penggunaan peralatan kerja.
Karena itu, Josua menilai pencatatan arus kas menjadi hal penting bagi pekerja kreatif agar dapat memahami kondisi finansial mereka secara lebih akurat.
Menurutnya, pemisahan antara berbagai sumber dana juga perlu menjadi perhatian. Dana yang berasal dari proyek, investor, pinjaman, maupun kebutuhan pribadi harus memiliki pencatatan yang jelas agar kondisi keuangan dapat terbaca dengan baik.
“Yang penting adalah mengetahui uang masuk berasal dari mana dan digunakan untuk apa. Ketika semuanya tercatat, maka pengambilan keputusan finansial juga menjadi lebih mudah,” jelas Josua.
Selain pengelolaan arus kas, Amar Bank melihat perlunya pendekatan baru dalam memahami kemampuan finansial pekerja freelance. Pendapatan yang tidak tetap tidak selalu menunjukkan kemampuan ekonomi yang rendah, karena banyak pekerja kreatif memiliki pemasukan yang signifikan melalui berbagai proyek.
Josua mengatakan teknologi dapat membantu pekerja kreatif melakukan konsolidasi data keuangan, sehingga mereka memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi finansial, termasuk pemasukan, pengeluaran, dan kewajiban.
“Melalui pengelolaan data keuangan yang lebih baik, pekerja dapat melakukan evaluasi kondisi finansialnya dan lebih siap ketika membutuhkan layanan keuangan,” katanya.
Membangun Keberlanjutan Finansial
Dari sisi pelaku industri kreatif, Penyunting Film sekaligus perwakilan INAFED, Aline Jusria, mengatakan keberlanjutan profesi pekerja kreatif tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan karya, tetapi juga bagaimana mengelola aspek bisnis dari pekerjaan tersebut.
Menurut Aline, pekerja kreatif sering kali bekerja berdasarkan proyek dengan nilai kontrak tertentu. Namun, nilai tersebut perlu dipahami secara menyeluruh karena terdapat banyak komponen biaya yang harus diperhitungkan.
“Ketika seorang editor mendapatkan proyek dengan nilai tertentu, itu bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ada biaya assistant, transportasi, studio, hingga berbagai kebutuhan produksi lainnya,” ujar Aline.
Ia menilai masih diperlukan edukasi mengenai pengelolaan keuangan bagi pekerja industri kreatif agar mereka dapat membangun profesi yang lebih berkelanjutan.
Selain pengelolaan pendapatan, Aline juga menyoroti tantangan pekerja freelance dalam mendapatkan akses terhadap berbagai fasilitas finansial.
Menurutnya, banyak pekerja kreatif memiliki kemampuan ekonomi yang baik, tetapi terkendala karena sistem pendapatan mereka berbeda dengan pekerja tetap.
“Ketika masuk ke kebutuhan jangka panjang seperti membeli rumah atau mengakses pembiayaan, pekerja freelance sering menghadapi tantangan karena tidak memiliki bukti pendapatan tetap seperti karyawan,” katanya.
Aline berharap ke depan terdapat sistem yang dapat lebih memahami karakter pekerja berbasis proyek, termasuk bagaimana membaca kemampuan finansial berdasarkan pola pendapatan dan rekam jejak pekerjaan.
Menurutnya, industri kreatif membutuhkan dukungan ekosistem yang tidak hanya berfokus pada produksi karya, tetapi juga membantu pekerjanya memiliki fondasi ekonomi yang lebih kuat. (Z-10)
