PVMBG: 8 Aki Stasiun Pemantau Gunung Anak Krakatau Hilang Dicuri
Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat masa-masa erupsi September 2026.(Dok. Antara)

PUSAT Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mengonfirmasi aksi pencurian delapan unit baterai akumulator (accu/aki) pada stasiun pemantau LV93 Gunung Anak Krakatau (GAK). Insiden ini terjadi setelah erupsi Gunung Anak Krakatau pada pertengahan September 2026.

Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menjelaskan bahwa gangguan pada jalur stasiun LV93 awalnya terdeteksi oleh sistem pemantauan digital pada 16 September 2026 pukul 19.36 WIB. Saat itu, transmisi data terhenti yang diduga akibat terjangan lontaran material vulkanik dan abu erupsi.

Namun, fakta mengejutkan ditemukan saat tim teknis PVMBG melakukan perbaikan lapangan pada 27 September 2026. Petugas mendapati delapan unit aki penyuplai daya telah hilang dari boks penyimpanan. Pencurian komponen vital ini diperkirakan terjadi dalam rentang waktu antara 16 hingga 27 September 2026.

“Pada 27 September 2026 diketahui bahwa 8 Accu di stasiun LV93 telah hilang. Tim telah melakukan penggantian aki dan menghidupkan kembali seismometer serta CCTV di stasiun LV93 yang terdampak erupsi, sehingga saat ini sudah beroperasi normal,” ujar Rita di Bandung, Senin (28/9).

Sistem Pemantauan Berlapis

Rita menegaskan bahwa aksi vandalisme ini tidak sampai mengancam keselamatan masyarakat. Hal ini dikarenakan PVMBG menerapkan sistem pemantauan berlapis (backup station). Salah satunya adalah Stasiun Tanjung yang berlokasi di dalam Pulau GAK, yang tetap beroperasi merekam aktivitas seismik secara kontinyu.

Kasus di Gunung Anak Krakatau ini menambah daftar panjang pencurian instrumen kebencanaan di Indonesia sepanjang periode 2025-2026. Sebelumnya, kasus serupa terjadi di stasiun pemantau Gunung Semeru (April 2026), Gunung Gamalama (Maret 2026), Gunung Kelud (September 2025), dan Gunung Papandayan (Juni 2025).

Tantangan Pengamanan di Area Kawah

Terkait pengamanan, PVMBG menjelaskan bahwa mereka tidak memasang pagar kawat duri di sekitar stasiun pemantau Anak Krakatau. Hal ini disebabkan oleh tingkat korosi gas sulfur yang sangat tinggi di kawasan tersebut, yang mampu menghancurkan material besi dalam waktu singkat.

Sebagai gantinya, otoritas mengandalkan boks tertutup anti-korosi, kamera CCTV pengawas internal, serta papan peringatan sanksi pidana. PVMBG dijadwalkan akan kembali ke Selat Sunda pada Oktober 2026 untuk melakukan optimalisasi dan pemeliharaan menyeluruh terhadap seluruh jaringan peralatan di lapangan.

“Pencurian ini perlu menjadi perhatian bersama. Masyarakat diharapkan berkontribusi menjaga peralatan pemantauan karena ini adalah sistem pertahanan utama dalam mengupayakan keselamatan masyarakat luas dari ancaman erupsi gunung api,” pungkas Rita.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *