
PENTAGON mengungkapkan ada lonjakan tajam jumlah personel militer Amerika Serikat yang terluka dalam operasi mendukung perang Iran sepanjang bulan ini. Laporan terbaru mencatat sembilan Marinir dan lebih dari dua lusin pelaut menjadi korban luka akibat aksi permusuhan.
Peningkatan angka korban itu terjadi seiring dengan pecahnya kembali pertempuran pada September, setelah sempat mereda pada Agustus lalu. Berdasarkan pembaruan data Defense Casualty Analysis System (DCAS), terdapat sembilan Marinir dan 29 pelaut yang masuk dalam daftar korban luka baru.
Para personel itu dikategorikan dalam kelompok operasi luar negeri, istilah yang digunakan Departemen Pertahanan AS sejak 7 Juli 2026, untuk semua korban yang jatuh setelah berakhirnya Operation Epic Fury. Sejak penetapan kategori tersebut, total 50 pelaut telah terluka, dengan mayoritas insiden terjadi pada bulan ini.
Total Korban Mencapai Ratusan
Hingga 23 September, kategori operasi luar negeri menunjukkan total 443 tentara terluka dalam pertempuran. Jika digabungkan dengan 417 korban luka selama Operation Epic Fury, total personel militer AS yang terluka akibat aksi musuh mencapai 860 orang.
Selain korban luka, Angkatan Darat AS juga mengumumkan kematian non-tempur seorang perwira bulan ini, yang menjadi kematian resmi ke-19 militer AS dalam perang tersebut. Namun, laporan Washington Post menyebutkan setidaknya ada empat anggota layanan tambahan yang tewas di Timur Tengah sejak 28 Februari yang belum tercatat secara resmi di DCAS.
Sejak permusuhan kembali meningkat pada Juli menyusul kegagalan nota kesepahaman AS-Iran, mayoritas korban berasal dari Angkatan Darat, termasuk kematian di Irak dan Yordania serta 374 tentara yang terluka dalam tiga bulan terakhir.
Insiden di Selat Hormuz
Meskipun database Pentagon tidak merinci sifat cedera atau detail insiden spesifik, laporan menyebutkan bahwa 38 korban baru dari Angkatan Laut dan Korps Marinir terjadi pada September. Seorang pejabat Angkatan Laut menyatakan bahwa laporan tersebut telah divalidasi untuk memastikan keakuratan catatan layanan. Ia menambahkan bahwa 29 pelaut yang terluka telah kembali bertugas.
Di sisi lain, laporan NBC News yang mengutip berbagai sumber menyebutkan bahwa delapan dari Marinir tersebut terluka setelah rudal Iran menghantam kapal non-Angkatan Laut AS yang mereka tumpangi di Selat Hormuz. Cedera dilaporkan bersifat ringan, mulai dari sesak napas akibat asap hingga kemungkinan gegar otak.
Hingga saat ini, Komando Pusat AS (Centcom) belum memberikan tanggapan resmi mengenai detail insiden tersebut, meskipun organisasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) sempat melaporkan adanya kapal kargo yang dihantam proyektil tak dikenal di wilayah perairan strategis tersebut. (Task & Purpose/I-2)
