Produktivitas Industri Babi Didorong lewat Genetika dan Manajemen Peternakan
ilustrasi(PT SOW)

Penerapan genetika ternak dan manajemen peternakan menjadi salah satu pendekatan yang didorong untuk meningkatkan produktivitas industri babi di Indonesia. Selain kualitas indukan, penerapan biosecurity, nutrisi, kesehatan, serta penyesuaian terhadap kondisi iklim tropis menjadi bagian dari sistem produksi yang dikembangkan.

PT Sulawesi Optima Wirakarya (PT SOW) mengembangkan pendekatan tersebut melalui kerja sama dengan perusahaan genetika ternak asal Denmark, DanBred, termasuk pengembangan DanBred Hybrid/F1 yang merupakan hasil persilangan DanBred Landrace dan DanBred Yorkshire. Presiden Direktur PT SOW Andreas Surjaputra mengatakan genetika menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan produktivitas peternakan.

“Kami melihat genetika sebagai investasi jangka panjang bagi industri,” ujar Andreas dalam keterangannya di Jakarta.

Menurut Andreas, kualitas indukan dapat memengaruhi peluang peternak untuk mempertahankan produktivitas secara konsisten dalam jangka panjang. DanBred Hybrid/F1 yang dikembangkan melalui kerja sama tersebut disebut memiliki potensi menghasilkan sedikitnya 14 anak pada kelahiran pertama, tingkat inseminasi buatan minimal 80 persen, efisiensi pakan yang baik, adaptif terhadap kondisi tropis, serta masa produktif yang panjang. Andreas mengatakan kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk mengintegrasikan genetika, manajemen peternakan, dan biosecurity dalam sistem produksi.

Genetika dan Efisiensi Pakan

Key Account Manager DanBred Henrik Nielsen mengatakan pengembangan genetika DanBred didukung lebih dari 100 tahun pengetahuan dan pengalaman dalam targeted breeding. DanBred juga memiliki basis data genetika yang tercatat lebih dari 34 juta data points sejak 1991.

Menurut Henrik, penggunaan genetika tersebut memiliki tiga manfaat utama bagi peternak, yakni meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi pakan, dan memberikan nilai ekonomi melalui kemajuan genetik yang berkelanjutan.

“Pembaruan genetika secara berkala membantu peternak mempertahankan dan meningkatkan performa ternaknya dari waktu ke waktu,” ujar Henrik.

Penerapan genetika tersebut dilakukan melalui Batu Likupang Integrated Farm (BLIF) di Sulawesi Utara yang menjadi bagian dari pengembangan ekosistem peternakan PT SOW. Selain faktor genetika, sistem produksi juga mempertimbangkan lingkungan, manajemen, nutrisi, kesehatan, dan kesejahteraan hewan untuk menjaga performa ternak di iklim tropis.

Adaptasi di Iklim Tropis

Technical Service Manager DanBred Southeast Asia Ariel Peregrino menekankan pentingnya manajemen peternakan, termasuk penerapan biosecurity sebagai bagian dari sistem produksi. Menurut Ariel, manajemen yang tepat dapat membantu indukan beradaptasi dan mempertahankan performa di lingkungan tropis.

Ia merujuk pada pengalaman di Filipina, di mana babi disebut dapat menunjukkan performa tinggi di iklim tropis. Dengan manajemen yang tepat, produktivitas hingga 37 ekor anak sapih per induk per tahun dapat dicapai.

“Pengalaman ini bisa menjadi referensi untuk pengembangan breeding di Indonesia, menyesuaikan dengan kondisi setempat,” ujarnya di sela International Livestock, Dairy, Meat Processing and Aquaculture Exhibition (ILDEX) Indonesia 2026 di Tangerang, Banten.

Pengembangan tersebut menempatkan genetika sebagai salah satu komponen dalam sistem produksi, yang perlu berjalan bersama manajemen peternakan dan biosecurity agar produktivitas ternak dapat dipertahankan dalam kondisi lingkungan yang berbeda.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *