
Festival Miss Batik Indonesia (MBI) 2026 siap digelar di Solo pada 9 Oktober mendatang dengan membawa semangat baru. Ajang ini tidak lagi sekadar kompetisi kecantikan (pageant), melainkan bertransformasi menjadi sebuah gerakan budaya (cultural movement) untuk menghidupkan kembali warisan batik di tangan generasi muda.
Ketua Panitia MBI 2026, Sendang Kusumastuti, menjelaskan bahwa sebanyak 20 hingga 22 finalis dari seluruh penjuru Indonesia akan mengikuti masa karantina dan Cultural Summit di Solo selama hampir sepekan. Puncaknya, malam final akan diselenggarakan di Pendapi Ageng, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) atau Taman Budaya Surakarta (TBS).
Selama masa karantina, para finalis tidak hanya belajar modeling, tetapi juga mendalami filosofi batik, kepemimpinan, pengembangan diri, hingga menyelami langsung ekosistem batik di Solo. “Bagi MBI, pelestarian bukan membekukan budaya. Kami ingin batik tidak berhenti sebagai warisan yang kita kenang, tetapi menjadi budaya yang terus kita hidupi, kembangkan, dan wariskan dengan cara yang relevan,” ujar Sendang dalam jumpa pers di Kusuma Sahid Solo, Selasa (29/9).
Kolaborasi Kreatif dan Pemberdayaan UMKM
Ketua Yayasan Adikarya Pusaka Indonesia, Endang Riyanti Guritno, menambahkan bahwa MBI 2026 dirancang sebagai ruang kolaborasi antara perempuan, budaya, kreativitas, pariwisata, dan ekonomi kreatif. “Tidak hanya pertunjukan, tapi juga perjumpaan,” tegas Guritno.
Selain kompetisi, Cultural Festival ini juga akan menghadirkan sekitar 30 stan UMKM. Kehadiran mereka memberikan panggung bagi pengrajin batik dan pelaku kuliner lokal untuk berinteraksi langsung dengan publik dan mempromosikan produk unggulan mereka.
Melibatkan Energi Gen Z
Relevansi MBI 2026 bagi generasi Z semakin kuat dengan keterlibatan aktif mahasiswa dalam aspek artistik. Fashion designer Tyas Santhi Fatmasari, pemilik label Ariesanthi yang bertindak sebagai Lead Project/Direktur Grand Final, menggandeng mahasiswa FSRD Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk merancang busana para finalis.
“Kami ingin panggung MBI menjadi ruang bagi karya dan gagasan generasi muda untuk tampil. Kolaborasi dengan mahasiswa FSRD UNS mempertemukan pengalaman profesional dengan energi kreatif generasi baru,” kata Tyas. Baginya, panggung MBI adalah laboratorium ide bagi anak muda untuk menerjemahkan batik ke dalam tren fesyen masa kini.
Pada malam Grand Final, Jumat, 9 Oktober 2026, akan dipilih Miss Batik Indonesia 2026, dua runner-up, serta pemenang penghargaan atribut. Namun, panitia menekankan bahwa mahkota hanyalah simbol. Nilai sesungguhnya terletak pada keberanian para finalis untuk berkarya dan menjaga warisan budaya dengan cara mereka masing-masing.
“Karena warisan tidak cukup dikenang, tetapi warisan harus dihidupkan,” pungkas Endang Riyanti Guritno.(H-2)
