
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran berpeluang kembali digelar pekan depan. Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Trump menolak usulan gencatan senjata yang diajukan Teheran.
Trump mengatakan Iran masih menginginkan kesepakatan dengan AS. Namun, menurut dia, proposal yang ditawarkan Teheran belum sesuai dengan kesepakatan yang diinginkannya.
“Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi bukan kesepakatan yang ingin saya buat. Itu adalah sesuatu yang mungkin akan kami setujui setahun lalu,” kata Trump dalam wawancara dengan Axios, Minggu (27/9) waktu setempat.
Iran pada Jumat (25/9) dilaporkan mengajukan proposal kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump menolak tawaran tersebut dan menilai Iran mengajukannya karena berada dalam posisi terdesak. “Mereka salah memperhitungkan langkah mereka,” ujar Trump.
Pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Teheran dilaporkan dapat berlangsung antara kedua pihak. Perundingan itu disebut akan dimediasi Qatar.
Pembicaraan tersebut merupakan kelanjutan dari komunikasi tidak langsung antara utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Pertemuan sebelumnya berlangsung di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Trump juga menyinggung perkembangan di Selat Hormuz. Dua mengatakan volume minyak yang melintas di jalur pelayaran tersebut pada akhir pekan menjadi yang terbesar sejak perang dimulai, yakni lebih dari 20 juta barel.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam konflik setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia diketahui melewati jalur tersebut.
Ketika ditanya apakah Amerika Serikat mempertimbangkan untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran, Trump tidak menutup kemungkinan tersebut. “Saya selalu mempertimbangkannya,” kata Trump.
Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan Trump tengah mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran setelah pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November. (AFP/Z-2)
