
DI suatu bar anggur dekat kantor OpenAI, San Francisco, dua pengusaha bioteknologi, Hannu Rajaniemi dan Nikolai Eroshenko, merumuskan ide ambisius yang kini menjadi garda depan pertahanan manusia. Mereka mendirikan Red Queen Bio, startup biosekuriti yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk merancang penawar terhadap potensi senjata biologis yang juga dikembangkan dengan bantuan AI.
Kemajuan pesat AI membawa kekhawatiran bahwa teknologi ini dapat disalahgunakan oleh teroris atau negara nakal untuk menciptakan virus mematikan. Red Queen Bio hadir dengan asumsi bahwa jika protokol pencegahan AI gagal, masyarakat harus memiliki kesiapan medis yang instan.
Startup ini mengumpulkan pendanaan sebesar US$36 juta (sekitar Rp545 miliar), dengan OpenAI sebagai investor utama. Fokus utama mereka ialah merancang antibodi yang dapat diproduksi secara massal untuk melindungi manusia dari berbagai patogen, termasuk ancaman virus hasil rekayasa AI yang sebelumnya hanya ada dalam fiksi ilmiah.
Uji Klinis dan Teknologi Antibodi
Red Queen Bio berencana memulai uji klinis pada manusia untuk obat antibodi terhadap flu burung dan virus keluarga flu lain pada tahun depan. Berbeda dengan vaksin tradisional yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dikembangkan, antibodi hasil rancangan AI ini bertujuan memberikan perlindungan langsung dan dapat diskalakan.
Nikolai Eroshenko, CEO Red Queen Bio, menjelaskan bahwa fokus mereka ialah membuat antibodi yang mengikat targetnya dengan sangat kuat. “Semakin kuat ikatannya, semakin sedikit dosis yang Anda butuhkan. Tiba-tiba, Anda memiliki sesuatu yang dapat diskalakan,” ujarnya.
Risiko Nyata dari Model AI saat Ini
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Tahun lalu, OpenAI mengamati ratusan pengguna yang menanyakan cara membuat racun dan senjata biologis kepada chatbot mereka. Anthropic juga mendeteksi upaya penggunaan chatbot Claude untuk merekayasa flu burung agar lebih mudah menular ke mamalia serta pertanyaan mengenai virus yang terkait dengan cacar (smallpox).
Catatan Penting: Dinamika perang biologis sering kali menguntungkan penyerang. Penyerang memiliki waktu tak terbatas untuk mengembangkan senjata, sementara pembela sering kali hanya memiliki waktu singkat untuk merancang penawar.
Filosofi Red Queen
Nama perusahaan ini diambil dari karakter dalam buku Lewis Carroll, Through the Looking-Glass, yang menyatakan bahwa seseorang harus terus berlari hanya untuk tetap berada di tempat yang sama. Dalam biologi, Hipotesis Red Queen merujuk pada teori evolusi bahwa spesies harus terus beradaptasi untuk mengimbangi pesaing yang juga terus berevolusi.
Selain mengembangkan obat, Red Queen Bio bekerja sama dengan OpenAI dalam proses red-teaming–menguji bagaimana chatbot merespons permintaan berbahaya–serta mendiskusikan strategi mitigasi risiko biologis global.
Di laboratorium mereka di Boston, para ilmuwan kini terus melatih model AI dengan data hasil tes antibodi flu. Tujuannya menciptakan perpustakaan antibodi untuk virus korona, ebola, virus yang dibawa kelelawar, hingga demam berdarah, guna memastikan stok nasional di AS dan Eropa siap menghadapi ancaman apa pun yang muncul di masa depan.
“Ini tidak dibatasi oleh biologi,” kata Rajaniemi. “Ini dibatasi oleh kecerdasan kita.” (The Wall Street Journal/I-2)
