
MATAHARI pagi baru saja menyentuh dermaga Pelabuhan Maccini Baji, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Di atas Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Arwana, puluhan penumpang sibuk mencari tempat duduk.
Ada ibu-ibu membawa keranjang hasil laut, ASN yang akan kerja di kantor pemerintahan di Pulau dan guru yang akan mengajar, hingga pedagang yang mengangkut kebutuhan pokok.
Mereka bukan hanya sebagai penumpang, tapi potret mobilitas baru warga kepulauan yang selama puluhan tahun tidak bisa menyeberang dengan nyaman dan rutin. Karena dulu, cerita tentang menyeberang ke Pulau Sabutung atau Pulau Balang Lompo di Kabupaten Pangkep adalah kisah tentang ketidakpastian. Modalnya nekat, kapalnya seadanya, dan ombak adalah ancaman nyata.
Namun, sejak awal 2023, kondisi itu pun berubah total. Kehadiran KMP Arwana yang dioperasikan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bukan hanya sebagai armada, tapi jadi titik balik bagi denyut nadi kehidupan di Kabupaten Pangkep.
Lebih dari Sekadar Kapal
Kehadiran KMP Arwana di lintasan Maccini Baji–Pulau Sabutung adalah oase di tengah gurun konektivitas. Bayangkan, selama 60 tahun lebih sejak lahirnya Kabupaten Pangkep, warga baru merasakan fasilitas penyeberangan yang layak, aman, dan terjadwal pada tahun 2023.
Bupati Pangkep, M. Yusran Lologau, (MYL) tentu menyampaikan rasa syukurnya. Baginya, KMP Arwana adalah bukti bahwa wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) tidak lagi menjadi anak tiri dalam pembangunan.
“Kemarin-kemarin, masyarakat kesulitan transportasi, dengan adanya kapal ini bisa mengurangi beban masyarakat,” ujarnya.
Optimisme itu bukan tanpa alasan. Pada 11 Januari 2025 lalu, KMP Arwana resmi menambah rute baru ke Pulau Balang Lompo, setelah sebelumnya hanya melayani rute Pulau Sabutung.
Bupati MYL menyambut baik tambahan rute itu “Dengan adanya jalur baru itu, mobilitas masyarakat menjadi lebih aman dan nyaman. Sarana dan prasarana yang disediakan juga sudah mendukung keselamatan pelayaran,” tegasnya.
Urat Nadi Ekonomi Pulau
Bagi masyarakat kepulauan, KMP Arwana bukan hanya sebagai alat transportasi. Kapal berwarna putih-kuning itu telah menjadi urat nadi perdagangan kecil hingga menengah. Hasil laut dari nelayan setempat, komoditas pertanian, serta berbagai produk usaha mikro dapat lebih mudah dipasarkan ke daratan utama.
Sebaliknya, kebutuhan logistik, bahan bangunan, dan barang konsumsi sehari-hari bisa lebih cepat didistribusikan ke pulau.
Tarif yang diberlakukan pun terjangkau. Penumpang dewasa dikenakan biaya Rp50.800, penumpang bayi Rp2.100, sepeda motor Rp25.800. Untuk barang, beras dikenakan tarif Rp2.500, semen Rp10.000, dan tabung gas Rp1.000.
KMP Arwana memiliki kapasitas 112 penumpang dengan diawaki 17 kru kapal, dan waktu tempuh rute Maccini Baji–Sabutung–Balang Lompo sekitar tiga jam.
Bukan hanya aspek ekonomi, konektivitas antar-pulau ini juga memperkuat ikatan sosial. Perjalanan rutin antara Pundata Baji dan Pulau Sabutung memberi ruang interaksi antarwarga, mempererat tali silaturahmi, sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas komunitas.
Sardi, salah seorang pedagang sayur mengaku lebih memilih menggunakan kapal tersebut. Baginya, KMP Arwana memberikan rasa aman dan nyaman sekaligus kemudahan karena kendaraan roda dua yang mengangkut sayur miliknya dapat ikut diangkut.
“Lebih aman, dan motor saya yang mengangkut sayur untuk dijual juga bisa dibawa ke atas kapal. Sore saya balik lagi. Pagi saya ke pulau lagi. Jadi saya dimudahkan sebagai pedagang sayur,” akunya.
Layanan yang Terus Bertumbuh
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Pangkep, Baharuddin, menjelaskan bahwa KMP Arwana kini melayani dua rute utama.
“KMP Arwana melayani dua rute utama, yakni Maccini Baji–Pulau Sabutung sebanyak dua kali setiap hari dan rute Maccini Baji–Pulau Balang Lompo. Kehadiran kapal ini menjadi sarana transportasi penting bagi masyarakat kepulauan,” jelasnya.
Pada Juni 2026 lalu, KMP Arwana bahkan dipercaya mengantar kunjungan kerja Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, bersama Bupati Pangkep ke Pulau Sabutung.
Kunjungan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) melalui pelatihan pembuatan ikan asap kemasan, sekaligus menyerahkan bantuan untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat kepulauan.
Bukti Komitmen ASDP untuk Negeri
Keberhasilan KMP Arwana di Pangkep adalah cerminan dari apa yang terjadi secara nasional. Sepanjang 2025, layanan penyeberangan perintis ASDP mencatat lebih dari 93.000 trip, tumbuh 11% dibandingkan tahun sebelumnya. Angkutan kendaraan juga meningkat 15% menjadi lebih dari 556.000 unit.
Executive Director ASDP Regional 4 Imran Kuru mengatakan konektivitas menjadi salah satu fokus perusahaan karena wilayah kerja Regional 4 mencakup wilayah yang luas, mulai dari Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Di Regional 4 ini ada 10 cabang, yakni lima cabang di Sulawesi, dua cabang di Maluku, dan tiga cabang di Papua. Karena itu, perusahaan milik negara tersebut fokus pada penguatan lintasan-lintasan yang bisa meningkatkan konektivitas di wilayah tersebut.
Sebelumnya, Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menegaskan bahwa capaian tersebut mempertegas peran perusahaan tidak hanya sebagai operator transportasi, tetapi juga penggerak konektivitas dan ekonomi nasional.
“Layanan perintis bukan sekadar menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya, tetapi menjadi urat nadi mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi. Karena itu, keberlanjutan layanan ini menjadi tanggung jawab bersama,” tegas Heru.
Yang membanggakan, di tengah kompleksitas operasional, ASDP berhasil menjaga tingkat kecelakaan kapal di level 0,22% sepanjang 2025, lebih baik dibandingkan target perusahaan sebesar 0,23%.
Tingkat kepuasan pelanggan juga mencapai skor 3,34 dari skala 4, didukung penguatan layanan digital dan kompetensi petugas.
ASDP, melalui layanan perintisnya, membuktikan bahwa laut bukanlah pemisah, melainkan jembatan yang menyatukan negeri.(LN/E-4)
