
BAGI para pengamat langit, mengamati fenomena bintang jatuh di malam hari mungkin sudah biasa. Namun, mengincar hujan meteor yang puncaknya terjadi di siang hari jelas menghadirkan tantangan tingkat tinggi. Fenomena inilah yang ditawarkan hujan meteor Daytime Sextantids.
Hujan meteor Daytime Sextantids aktif mulai dari 22 September hingga 13 Oktober. Fenomena tahunan ini terjadi saat Bumi melintasi lautan puing-puing sisa benda antariksa. Hingga saat ini, induk utama dari puing-puing tersebut masih belum dapat diidentifikasi secara pasti oleh para ilmuwan.
Proses memprediksi puncak aktivitas Daytime Sextantids terbilang cukup rumit akibat minimnya data. Kendati demikian, perkiraan umum menempatkan puncaknya antara akhir September hingga awal Oktober. Layanan astronomi In The Sky mencatat puncaknya jatuh pada 27 September, sementara Robert Lunsford, pelapor bola api dari American Meteor Society, memperkirakan puncaknya berlangsung antara 30 September hingga 4 Oktober.
Nama “Daytime Sextantids” diberikan karena titik pancar (*radiant*) meteor ini tampak berasal dari rasi bintang Sextans. Masalahnya, posisi rasi tersebut hanya berjarak sekitar 30 derajat dari Matahari. Akibatnya, sebagian besar jejak meteor tertutup oleh terangnya sinar matahari. Oleh karena itu, para ilmuwan lebih sering mendeteksinya menggunakan teknik gelombang radio ketimbang pengamatan mata telanjang.
Walau tergolong sulit, kesempatan untuk mengamatinya secara langsung tidak sepenuhnya tertutup. Peluang terbaik muncul pada kurun waktu satu jam sebelum fajar menyingsing di masa puncak aktivitasnya. Pada momen tersebut, titik pancar meteor berada di posisi tertinggi sebelum akhirnya hilang tersapu cahaya mentari. Dalam kondisi ideal, pengamat diperkirakan dapat melihat hingga 5 meteor per jam membelah langit.
Robert Lunsford memberikan panduan teknis bagi siapapun yang ingin mencoba peruntungan mengamati fenomena ini.
“Calon pengamat sebaiknya menghadap ke arah timur pada posisi separuh tinggi langit,” ujar Lunsford. “Carilah meteor berkecepatan sedang yang meluncur ke atas dari ufuk timur, serta yang menyamping ke arah utara dan selatan. Semua meteor ini merupakan *earthgrazers* dengan jejak panjang yang bertahan selama beberapa detik.”
Meski demikian, Lunsford memberikan catatan khusus mengenai kondisi bulan yang sedang berada pada fase *waning gibbous* (cembung mengecil). Sinar bulan di dini hari berpotensi menyamarkan jejak meteor yang lebih redup.
“Ini berarti bulan akan berada tinggi di langit selatan selama jam terakhir malam pada periode ini,” lanjut Lunsford. “Anda sebaiknya mengalihkan pandangan ke arah utara untuk menjaga agar bulan tidak masuk ke dalam bidang pandang. Bulan mungkin menyamarkan meteor-meteor yang paling redup, tetapi tidak akan menjadi gangguan besar.”
Bagi para pencinta astrofotografi dan pengamat astronomi, Daytime Sextantids menjadi ajang pembuktian kesabaran. Persiapan yang matang serta pemilihan arah pandang yang tepat menjadi kunci utama untuk menangkap momen langka bintang jatuh di ambang fajar ini. (Space/Z-2)
