
USAHA produksi tempe yang dikelola Pondok Pesantren Tarbiyatul Athfal di Temiyangsari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kini mampu memproduksi hingga 1 kuintal tempe per hari. Produksi tersebut meningkat dari sebelumnya sekitar 30-40 kilogram per hari setelah mendapat pendampingan dan dukungan pengembangan usaha.
Usaha yang diberi nama Tempesantren tersebut kini mencatat omzet sekitar Rp2,5 juta per hari atau Rp75 juta per bulan. Dari omzet tersebut, pendapatan bersih yang diperoleh sekitar Rp500 ribu per hari atau Rp15 juta per bulan setelah dikurangi biaya bahan baku dan operasional.
Marketing Tempesantren Makrus Ali mengatakan pendapatan tersebut berasal dari produksi yang saat ini mencapai sekitar 1 kuintal per hari atau sekitar 3 ton per bulan.
“Pendapatan bersih Rp500 ribu per hari dari omzet Rp2,5 juta yang diputar untuk bahan baku dan operasional,” tutur Makrus dikutip Minggu (27/9).
Tempesantren merupakan usaha yang melibatkan santri dan masyarakat sekitar. Selain dipasarkan melalui warung-warung di sekitar pesantren, produk tempe tersebut kini juga dipasok ke tiga titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah sekitar untuk mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Pimpinan Pondok Pesantren Tarbiyatul Athfal, Kiai Amin, mengatakan saat ini Tempesantren memasok produk ke tiga titik SPPG.
“Ada tiga titik SPPG yang disuplai dari sini,” tuturnya.
Selain memasok SPPG, tempe produksi Tempesantren juga dikirim ke sejumlah warung di sekitar pesantren untuk dijual.
Produksi Naik Lebih dari Dua Kali Lipat
Direktur Utama PT Patra Drilling Contractor (PDC) Hery Lesmana mengatakan peningkatan produksi Tempesantren menjadi salah satu hasil pendampingan yang dilakukan perusahaan.
Hery bersama jajaran PDC mengunjungi rumah produksi Tempesantren pada Kamis, 25 September 2026. Menurut dia, produksi yang sebelumnya berada di kisaran 30–40 kilogram per hari kini telah mencapai lebih dari 1 kuintal per hari.
“Sekarang sudah meningkat bahkan lebih dari 1 kwintal per hari,” kata Hery di lokasi rumah produksi.
PDC memberikan dukungan untuk pembangunan rumah produksi dan pengadaan peralatan dengan nilai sekitar Rp240 juta. Bantuan tersebut juga mencakup modal kerja serta peralatan produksi yang lebih higienis.
Menurut Hery, pendampingan tersebut dilakukan karena terdapat kesesuaian antara kegiatan pemberdayaan masyarakat di pesantren dan unit bisnis PDC sebagai perusahaan jasa penunjang industri migas yang memiliki unit Food Lodging Services.
“Kami merasa cocok di sini. Kami juga melihat leverage-nya besar karena pesantren ini bisa membantu masyarakat. Sehingga kami melakukan pendampingan di sini,” tuturnya.
Selain dukungan peralatan dan modal, PDC memberikan pendampingan dan pelatihan kepada pengelola Tempesantren. Usaha tersebut telah memperoleh sertifikasi halal dan saat ini masih dalam proses mendapatkan sertifikat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Jadi target kami ada tiga. Pertama, produksi meningkat dua kali lipat; kedua, tingkat higienitas meningkat jauh; dan ketiga, secara pemasaran produk laku terjual. Dari tiga target tersebut, semuanya tercapai dan bahkan lebih dari target kami. Ke depan, usaha ini akan dikembangkan dengan membuat keripik tempe yang harapannya bisa masuk ke supermarket. Namun ada beberapa syarat, seperti aspek higienitas, izin dari BPOM,” katanya.
Kiai Amin mengatakan pengembangan usaha tersebut juga diharapkan dapat mendukung keberlangsungan kegiatan pendidikan di pesantren. Pondok Pesantren Tarbiyatul Athfal tidak memungut biaya pendidikan bagi para santrinya.
“Di sini enggak bayar, karena gimana caranya harta kita juga keluar. Total di sini santri putra-putri (Tingkat Madrasah Aliyah) 70-an, sementara yang MI (Madrasah Ibtidaiyah) dan MTS (Madrasah Tsanawiyah) 200 lebih,” tutur Kiai Amin.
Ia berharap kerja sama dengan PDC dapat terus berlanjut. Selain pengembangan keripik tempe, pesantren juga memiliki rencana membangun pabrik tahu sebagai bagian dari pengembangan usaha.
“Harapannya, kerja sama ini bisa terus dilanjutkan, jangan diputus. Kami sudah cukup lama bekerja sama. Dulu pernah diberikan laptop, kemudian kemarin diberikan modal, dan ini yang ketiga kalinya dengan modal yang lebih besar lagi,” jelasnya.
Dengan produksi yang telah meningkat dan usaha yang mulai mandiri secara finansial, Tempesantren diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan bagi santri sekaligus membuka aktivitas ekonomi bagi masyarakat sekitar. (E-2)
