
KETUA Komisi XIII DPR Willy Aditya mengusulkan kemampuan membaca dan menulis menjadi salah satu indikator dalam pengurangan masa tahanan bagi warga binaan. Menurutnya, literasi dapat menjadi bagian dari proses pembinaan yang mendorong warga binaan untuk lebih produktif sekaligus membuat penerapan regulasi berjalan lebih manusiawi.
Gagasan tersebut disampaikan Willy saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XIII DPR RI ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, Jumat (25/9). Ia mengatakan, penguatan literasi merupakan bagian dari gerakan yang perlu terus dikembangkan di lingkungan pemasyarakatan.
“Saya sudah sampaikan di dalam rapat kerja bersama menteri bahwasannya pengurang masa tahanan itu salah satu variabelnya adalah sebanyak apa orang sudah membaca dan menamatkan buku, yang kedua sejauh apa orang bisa menulis,” kata Willy seperti dikutip pada Minggu (27/9).
Ia menilai pembinaan warga binaan tidak cukup hanya diukur dari kepatuhan terhadap tata tertib. Sistem pemasyarakatan juga perlu memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan kemampuan, berkarya, dan mempersiapkan diri sebelum kembali ke tengah masyarakat. “Sebuah regulasi harus dibikinkan ruang konversi. Apa ruang konversinya? Yaitu ruang membaca dan menulis. Kita kembali ke hal yang paling basic,” kata Willy.
Menurutnya, sejarah telah menunjukkan bahwa keterbatasan ruang dan kondisi penahanan tidak selalu menghalangi seseorang untuk menghasilkan karya. Ia mencontohkan sejumlah tokoh yang tetap produktif dan menghasilkan tulisan selama berada di dalam penjara.
“Kalau mau melihat sejarah, karya-karya besar yang ditulis oleh orang-orang besar itu rata-rata dari dalam penjara. Kita lihat bagaimana Nelson menulis dari dalam penjara, kita melihat bagaimana Tan Malaka menulis, Bung Karno menulis, Antonio Gramsci menulis, bahkan secara spesifik Antonio Gramsci menulis tentang penjara,” terang Willy.
Ia juga menyebut Buya Hamka yang menyelesaikan karya tafsir Al-Qur’an saat menjalani masa tahanan. Hal tersebut, imbuh Willy, memperlihatkan lingkungan pemasyarakatan tetap dapat menjadi ruang untuk mengembangkan produktivitas dan melahirkan pemikiran.
Willy mengatakan gagasan mengenai penguatan literasi tersebut telah mulai diterapkan di sejumlah lapas, salah satunya Lapas Cipinang. Ia juga berencana mengirimkan tim asistensi ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung untuk membantu warga binaan meningkatkan kemampuan membaca dan menulis.
“Saya tidak hanya berhenti di sini, habis ini saya akan kirim tim asistensi yang akan mengajari teman-teman bagaimana membaca, bagaimana menulis,” tuturnya.
Lebih lanjut, Willy menilai sistem pembinaan warga binaan selama ini masih cenderung menggunakan satu ukuran utama, yakni kepatuhan terhadap aturan. Padahal, menurut dia, keberhasilan pembinaan dapat dilihat dari berbagai aspek lain, termasuk kemampuan warga binaan untuk berkembang dan menghasilkan sesuatu.
“Variabel kita selama ini kan variabel tunggal, itu ketaatan kepada aturan, kita tidak lihat variabel yang lain bahwasannya, kalau lapas benar-benar menjadi ruang reintegrasi dari memanusiakan manusia, harusnya kita berpikir pada titik yang produktif,” jelasnya.
Ia berharap kemampuan menghasilkan karya dapat menjadi salah satu indikator yang lebih bermakna dalam menilai perkembangan warga binaan. Menurutnya, aktivitas menulis dapat menjadi sarana bagi warga binaan untuk merefleksikan pengalaman, lingkungan, serta hubungan yang mereka jalani selama berada di dalam lapas.
“Ketika dia menulis realitasnya, kita bayangkan bagaimana seorang warga binaan bisa menulis cerita tentang temannya di dalam sel. Seorang warga binaan bisa menulis tentang bagaimana petugas lapas, itu interaksi yang sangat manusiawi sekali,” pungkas Willy. (Mir/P-3)
