Iran Tunggu Jawaban Resmi Mediator Soal Pembukaan Selat Hormuz
Presiden AS Donald Trump(White House)

PEMERINTAH Iran memilih untuk menunggu tanggapan resmi dari tim negosiator Amerika Serikat melalui jalur mediator, menyusul penolakan Presiden Donald Trump atas proposal pembukaan kembali Selat Hormuz. Tehran menegaskan tidak akan mengambil keputusan strategis sebelum menerima jawaban tertulis yang pasti dari saluran diplomasi formal.

Sikap tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, merespons pernyataan publik Trump di Gedung Putih. Araghchi menilai retorika yang disampaikan pemimpin AS tersebut kerap berubah-ubah dan tidak konsisten.

“Presiden Trump telah membuat banyak pernyataan yang bagus, serta banyak pula yang kontradiktif, yang sayangnya kerap kami dengar,” kata Araghchi melalui saluran resmi Telegram.

Oleh karena itu, pihak Iran memilih untuk tidak mengacu pada pernyataan pers, melainkan menunggu hasil resmi dari proses mediasi.

“Kami sedang menunggu para mediator untuk menyampaikan pandangan pasti kepada kami, dan kami akan mengambil keputusan berdasarkan hal tersebut,” ujar Araghchi.

Sebelumnya, Trump secara terbuka menolak tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran komersial dalam kurun waktu tujuh hari. Trump menilai tawaran tersebut diajukan karena posisi Iran yang kian terdesak.

“Saya menolak kesepakatan mereka,” tegas Trump pada Sabtu, sembari mengklaim bahwa militer AS telah memegang kontrol penuh atas jalur perairan vital tersebut.

Syarat Perjanjian dan Peran Mediator

Selat Hormuz, yang merupakan jalur perlintasan utama bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia, mengalami gangguan navigasi parah sejak konflik terbuka pecah pada Februari lalu. Dalam perundingan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, Araghchi menegaskan bahwa pembukaan selat dapat direalisasikan jika syarat-syarat yang disepakati bersama berhasil dipenuhi.

Menurut Araghchi, poin-poin yang diajukan Iran sejatinya mengacu pada nota kesepahaman (MoU) yang pernah ditandatangani oleh AS dan Iran pada Juni lalu.

Merespons dinamika ini, Pemerintah Oman yang bertindak sebagai mediator utama mengimbau seluruh pihak untuk mengedepankan dialog. Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi, meminta semua negara terkait untuk terus bekerja sama demi menjamin keamanan jalur pelayaran internasional tersebut.

Tekanan Sanksi dan Respon Internal AS

Penolakan Trump terhadap proposal Iran mendapat dukungan dari Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker. Whitaker mengklaim bahwa tawaran dari Tehran hanyalah strategi diplomasi sesaat untuk memperbaiki citra di tingkat global. “Presiden Trump benar dengan menolaknya,” ujar Whitaker.

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa sanksi ekonomi bertajuk “Operation Economic Outcast” mulai membuahkan hasil. Melalui platform X, Bessent menyebut beberapa negara tetangga seperti Turki, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA) mulai membatasi transaksi keuangan serta menghentikan layanan penerbangan bagi maskapai asal Iran.

Meski demikian, sejumlah pengamat ekonomi menilai efektivitas sanksi tersebut masih bergantung pada sikap mitra dagang utama Iran, seperti Tiongkok, yang hingga kini masih terus melakukan pembelian minyak dari Tehran.Pemerintah Iran memilih menahan diri dan menanti tanggapan resmi mediator terkait usulan pembukaan Selat Hormuz, pasca penolakan terbuka dari Donald Trump. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *