
TUJUAN Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) tidak lagi menjadi konsep yang mengawang dan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Hal ditunjukkan oleh Tri Jatmiko yang menginisiasi Ekang Green Creative Village, sebuah desa berbasis ekonomi sirkular terpadu di Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Semua itu berawal saat ia mendirikan Rumah Batik Bintan pada 2019. Jatmiko yang merupakan pembatik tulis dan cap tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) itu menjadikan Rumah Batik Bintan sebagai pusat kreativitas, pelestarian budaya, dan eduwisata yang mengembangkan batik khas Kabupaten Bintan.
Namun ia merasa Rumah Batik Bintan bisa dikembangkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas, paling tidak untuk keberlanjutan desa tempat ia tinggal.
Untuk itulah Jatmiko menggagas Ekang Green Creative Village, capstone project-nya dalam SDG Academy Indonesia yang diselenggarakan Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas. Inisiasi itu menjadikannya salah satu dari 50 peserta terpilih dalam SDG Certified Leadership Program 2026.
Ia bercerita banyak mengenai Ekang Green Creative Village saat ditemui di Rumah Batik Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Jumat (25/9). “Dalam kita berusaha, kita tidak asal membuat sebuah bisnis, tetapi kita juga harus merencanakan bagaimana bisnis tersebut bisa berkelanjutan. Jadi bisa berdampak untuk sosial, lingkungan,” tutur Jatmiko saat ditanya latar belakang membuat inisiatif tersebut.
Ekang Green Creative Village mengintegrasikan produksi batik, pengelolaan limbah organik, pengomposan, pertanian regeneratif, ketahanan pangan, dan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Semua itu saling terkait dalam sebuah ekosistem yang terkait dengan isu keberlanjutan dan SDGs.
Terkait, keberlanjutan ekonomi, misalnya, Ekang Green Creative Village mengimplementasikan SDGs poin 1 (tanpa kemiskinan) dan poin 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi) dengan mengembangkan UMKM mikro-kecil, memperkuat ekowisata dan ekonomi kreatif, serta membuka akses pasar yang adil (fair market).
Sementara terkait keberlanjutan lingkungan, program ini mengimplementasikan SDGs poin 12 (konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab), yakni menerapkan siklus tertutup (closed-loop system) dengan mengubah limbah menjadi kompos, kompos menjadi pupuk tanaman pewarna/pangan, dan tanaman dimanfaatkan kembali untuk kerajinan serta konsumsi.
Selain itu, pemberian ruang dan kesempatan berdaya bagi perempuan lokal di dalam kelompok usaha desa juga terkait dengan SDGs poin 5 (kesetaraan gender).
Jatmiko mencontohkan, pewarna alami yang digunakan untuk kegiatan membatik adalah pewarna alam yang ada di sekitar Rumah Batik Bintan. Misalnya daun akasia, kulit pohon mahoni, tbuah mangrove. “Itu kita olah menjadi pewarna. Jadi, ini salah satu cara kita untuk terus menjaga lingkungan,” paparnya.
Limbah dari pewarna alami tersebut kemudian diolah menjadi kompos, digabungkan dengan sampah rumah tangga. Kompos tersebut bisa dimanfaatkan untuk pupuk di lahan pertanian warga.
“Selama ini warga di sini masih menggunakan pupuk sintetis yang mana untuk jangka panjang adalah kurang bagus. Karena struktur tanah menjadi lebih keras, hasil pertanian tentu juga semakin menurun,” ujar Jatmiko.
Dengan kompos dari limbah hasil membatik tersebut, katanya, diharapkan bisa memperbaiki struktur tanah lahan pertanian yang pada akhirnya bisa meningkatkan hasil pertanian warga.
Dari semua aktivitas tadi, Jatmiko mengemasnya menjadi sebuah atraksi wisata. “Kebetulan Desa Ekang Anculai ini dekat dengan kawasan pariwisata Lagoi. Di sana banyak sekali turis dari mancanegara. Jadi saya membuat sebuah paket-paket wisata untuk menarik mereka datang ke Rumah Batik,” ungkapnya.
Jatmiko menyebut tahun lalu turis mancanegara yang berkunjung ke Rumah Batik Bintan mencapai sekitar 700-an. Sementara wisman lokal mencapai lebih dari 1.000 pengunjung pada 2025.
“Untuk tahun 2026 kayaknya ada peningkatan. Nanti ada paket juga yang lebih panjang untuk bisa turis tersebut tidak hanya membatik, tetapi juga bisa mungkin mengikuti atraksi menanam tanaman atau memanen. Ke depannya akan seperti itu,” katanya.
Jatmiko mengungkapkan dampak Rumah Batik Bintan pada perekonomian warga, terutama para ibu, cukup signifikan.
“Saya mengajak ibu-ibu tersebut untuk belajar membatik.Kebetulan juga didukung oleh dari DKUPP (Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan) mengadakan pelatihan membatik. Dari hasil pelatihan tersebut, itu ibu-ibu sudah bisa menghasilkan karya. Walaupun dalam sebulan itu belum banyak, tetapi sedikit banyak bisa meningkatkan pendapatan dari ibu-ibu,” ungkapnya.
“Dari pariwisatanya, ibu-ibu itu saya jadikan pendamping. Kalau ada turis dari mancanegara, misalkan rombongan sekitar 20 orang, 30 orang, kan tidak mungkin saya yang handle sendiri. Nah, itu saya mengajak ibu-ibu untuk ikut mendampingi turis proses tersebut. Jadi mereka mendapatkan penghasilan dari kegiatan pariwisata juga,” imbuh Jatmiko.
SDGs merupakan agenda global dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mencakup 17 tujuan untuk kesejahteraan manusia dan kelestarian bumi hingga 2030. Koordinator Tim Ahli Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas Arifin Rudiyanto mengungkapkan Indonesia sudah mencapai 62% dari target SDGs.
Secara global, katanya, rata-rata pencapaian target di dunia baru 13%. Sementara di Asia Pasifik sekitar 36%. “Ada target-target atau indikator yang sudah hijau. Artinya sudah tercapai, ada yang masih kuning yang belum tercapai, ada yang merah yang perlu dicapai dengan usaha yang sangat besar. Itu sudah kita identifikasi setiap tahun,” ujar Rudiyanto pada kesempatan yang sama.
Ia melihat salah satu kemajuan yang paling masif ada pada pengembangan ekonomi lokal dan lingkungan seperti yang dilakukan Jatmiko. “Ekonomi lokal dengan inovasi-inovasi seperti yang dilakukan oleh Batik Bintan ini cukup menolong. Kalau semua desa nanti punya inovasi seperti ini, akan mudah bagi kita untuk menggerakkan ekonomi lokal lebih hidup lagi,” ungkapnya. (E-4)
