
PAUS Leo XIV memulai kunjungan apostolik selama empat hari di Prancis dengan menyampaikan pesan mendalam mengenai masa depan kemanusiaan di era digital.
Dalam pertemuan di Istana Élysée setelah berdiskusi selama satu jam dengan Presiden Emmanuel Macron, pemimpin umat Katolik dunia tersebut memperingatkan risiko kehilangan jati diri manusia di tengah kemajuan teknologi.
Paus Leo XIV menekankan agar dunia tidak “kehilangan kemanusiaan kita di tengah surga mesin.” Peringatan ini bukanlah yang pertama; awal tahun ini, ia menyerukan agar kecerdasan buatan (AI) harus “dilucuti” dalam dokumen pengajaran utama pertamanya.
Ia bahkan menarik paralel yang tajam dengan sejarah kelam perdagangan budak, memperingatkan bahwa AI berisiko menormalisasi kembali eksploitasi terhadap manusia.
Agenda Kunjungan dan Antusiasme Publik
Kunjungan ini disambut dengan antusiasme tinggi, yang oleh pihak Gereja dipandang sebagai tanda tumbuhnya kembali spiritualitas di Eropa. Meskipun Prancis dikenal dengan prinsip sekularisme yang ketat, ribuan orang berkumpul di sepanjang rute menuju Katedral Notre-Dame untuk melihat langsung Paus yang melintas dengan popemobile.
Berikut adalah jadwal utama kunjungan Paus Leo XIV di Prancis:
| Waktu | Lokasi / Agenda | Detail Kegiatan |
|---|---|---|
| Jumat Sore | Katedral Notre-Dame & Stade de France | Pertemuan dengan 80.000 anak muda di stadion nasional. |
| Sabtu | Place de la Concorde, Paris | Misa akbar yang diperkirakan dihadiri lebih dari 500.000 orang. |
| Minggu | Lourdes | Misa di tempat ziarah (150.000 peserta) dan pertemuan dengan korban pelecehan seksual oleh klerus. |
| Senin | Metz | Penghormatan kepada Robert Schuman, bapak pendiri Uni Eropa. |
Ketegangan Diplomatik dan Isu Sekularisme
Di balik kemegahan acara, sempat muncul laporan ketegangan antara tim Vatikan dan pihak Élysée. Presiden Macron dikabarkan menginginkan aspek seremonial yang lebih menonjol, seperti pengawalan kavaleri di Champs-Élysées, namun Paus Leo XIV memilih agenda yang lebih sederhana dan padat. Paus bahkan menolak pertemuan dengan pengrajin Notre-Dame karena keterbatasan waktu.
Isu sekularisme (laïcité) juga menjadi sorotan. Macron menegaskan bahwa sekularisme Prancis tidak meniadakan agama. Sebaliknya, Paus Leo XIV berpendapat bahwa “sekularitas otentik” seharusnya tidak mengecualikan agama dari ruang publik atau pendidikan. Hal ini menjadi relevan mengingat kebijakan Prancis baru-baru ini yang melarang simbol-simbol agama di sekolah dan ruang publik.
Konteks Sejarah dan Statistik Gereja di Prancis
Paus Leo XIV, yang lahir di Chicago pada 1955 dengan nama asli Robert Prevost, memiliki ikatan darah dengan Prancis melalui nenek buyutnya yang berasal dari Normandia. Kunjungannya terjadi saat Gereja Katolik di Prancis menghadapi tantangan demografis yang besar, namun mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan spiritual.
| Indikator | Data Masa Lalu | Kondisi Saat Ini (2025/2026) |
|---|---|---|
| Jumlah Jemaat Reguler | 35% (Tahun 1960) | Kurang dari 5% |
| Jumlah Imam | 25.000 (Tahun 1990) | Kurang dari 9.000 |
| Baptisan Dewasa | ~5.000 (5 tahun lalu) | 10.000 (Tahun 2025) |
Kardinal François Bustillo, Uskup Ajaccio, mencatat bahwa meskipun Prancis telah sekuler, terdapat “kekosongan nilai” yang kini mulai dicari kembali oleh masyarakat. “Jika Yohanes Paulus II membangunkan Timur, maka Leo XIV akan membangunkan Barat,” pungkasnya. (bbc/Z-1)
