
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth mengawal langsung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar di wilayah Jabodetabek. Langkah ini dilakukan sebagai upaya strategis untuk mengatasi kekeringan sekaligus menekan polusi udara yang melanda kawasan ibu kota dan sekitarnya.
Kenneth meninjau langsung jalannya operasi tersebut di Pangkalan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada Jumat (25/9). Operasi bersama ini diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta yang bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pengawasan Anggaran APBD DKI Jakarta
Dalam peninjauannya, Kenneth menegaskan bahwa pengawasan dari legislatif sangat krusial. Hal ini mengingat seluruh rangkaian pelaksanaan OMC didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.
“Sebagai anggota Dewan, tentunya saya wajib mengawal kegiatan ini karena OMC ini menggunakan dana APBD DKI Jakarta yang dihimpun dari skema uang rakyat. Kita harus kawal dan pastikan pelaksanaannya berjalan sebaik-baiknya,” ujar Kenneth.
Penyemaian 1 Ton Garam Bubuk
Kenneth juga memeriksa langsung kesiapan bahan semai yang akan diterbangkan. Pada pelaksanaan hari Jumat, petugas menyiapkan sebanyak 1 ton atau 1.000 kilogram natrium klorida (NaCl) dalam bentuk bubuk (powder). Metode ini berbeda dengan aksi sebelumnya yang menggunakan NaCl cair (liquid).
Penyemaian garam bubuk ini ditargetkan dapat memicu pertumbuhan awan hujan secara lebih optimal di langit Jabodetabek.
“Jika sebelumnya menggunakan NaCl liquid, hari ini yang dibawa adalah NaCl powder sebanyak 1.000 kilogram atau 1 ton. Harapan kami hasilnya bisa maksimal sehingga curah hujan yang turun cukup banyak untuk menekan kekeringan sekaligus polusi udara di DKI Jakarta,” tambahnya.
Target dan Prediksi Dampak Cuaca
Operasi modifikasi cuaca Jabodetabek ini telah berlangsung sejak 18 September dan dijadwalkan berakhir pada 25 September. Berdasarkan data BMKG, operasi dihentikan sementara karena potensi pertumbuhan awan hujan diperkirakan akan menurun mulai 26 September.
“Seperti yang disampaikan pihak BMKG, mulai 26 September potensi pertumbuhan awan cukup rendah. Jadi harapannya garam NaCl yang ditabur selama sepekan terakhir bisa memicu awan hujan dalam waktu dekat,” jelas Kenneth.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat menjelaskan bahwa OMC yang digelar selama sepekan ini mengusung tiga misi utama demi kemaslahatan warga Jakarta.
“Jadi operasi modifikasi cuaca ini tujuannya adalah untuk menurunkan polusi, mengupayakan turunnya hujan, dan meningkatkan kebutuhan air baku PAM Jaya,” kata Maruli.
Dampak dari penyemaian ini diproyeksikan terlihat dalam beberapa hari ke depan. Kendati demikian, BMKG memperkirakan intensitas hujan yang turun tidak akan merata di seluruh wilayah. Potensi hujan dengan curah lebih tinggi diprediksi terjadi di wilayah perbatasan seperti Bogor dan Depok, sedangkan untuk area Jakarta, peluang terbesar berada di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. (E-3)
