
PAPARAN polusi udara, khususnya partikel halus PM2.5, terbukti berkaitan erat dengan peningkatan risiko infeksi Influenza A pada manusia. Berdasarkan data penelitian kesehatan hingga September 2026, kondisi lingkungan yang buruk dapat memperlemah sistem pertahanan saluran pernapasan terhadap serangan virus.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dipublikasikan pada 2025 terhadap 16 penelitian mengungkapkan bahwa setiap peningkatan harian PM2.5 sebesar 10 mikrogram per meter kubik berkorelasi dengan kenaikan risiko influenza sekitar 1,5%. Partikel PM2.5 yang berukuran sangat kecil ini mampu menembus jauh ke dalam sistem pernapasan manusia.
Penelitian global lainnya yang mencakup 28 studi memperkuat temuan ini. Selain PM2.5, polutan lain seperti sulfur dioksida (SO2) dan karbon monoksida (CO) juga menunjukkan hubungan signifikan dengan peningkatan kasus flu. Di Tiongkok, studi terhadap 257 ribu kasus terkonfirmasi menunjukkan bahwa Influenza A memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan polusi udara dibandingkan Influenza B.
Penelitian yang didanai oleh National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) menemukan bahwa partikel polusi dapat terakumulasi di kelenjar getah bening paru-paru. Hal ini berpotensi mengganggu fungsi sel imun, sehingga tubuh lebih rentan saat terpapar virus influenza.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengategorikan polusi udara sebagai faktor lingkungan utama penyebab gangguan pernapasan akut maupun kronis. Selain partikel halus, nitrogen dioksida dan ozon juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global.
Untuk meminimalisir risiko, masyarakat disarankan memantau kualitas udara secara rutin dan mengurangi aktivitas luar ruangan saat tingkat polusi tinggi. Penggunaan perlindungan pernapasan yang sesuai menjadi langkah preventif yang krusial di wilayah dengan kualitas udara buruk.
Selain faktor lingkungan, pencegahan virus secara langsung tetap menjadi prioritas. CDC merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan, rutin mencuci tangan, serta menjaga kualitas udara di dalam ruangan sebagai langkah perlindungan komprehensif, terutama bagi kelompok rentan.
Keterkaitan antara Influenza A dan polusi udara menegaskan bahwa polusi bukan penyebab tunggal, melainkan faktor yang memperburuk risiko infeksi. Menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan pribadi menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman penyakit pernapasan ini. (Z-10)
