Tren Simpan Frozen Food Meningkat, Freezer Dituntut Tahan Saat Listrik Padam
Aqua Elektronik Indonesia memperkenalkan chest freezer AQF-150HC dengan kapasitas bersih 142 liter yang dilengkapi sistem untuk mempertahankan suhu dingin lebih lama ketika listrik terputus.(Dok. Aqua Elektronik Indonesia)

MENYIMPAN makanan beku dalam jumlah besar kini semakin lazim dilakukan, baik oleh rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner. Kebiasaan menyiapkan makanan untuk kebutuhan beberapa hari, berbelanja dalam jumlah banyak, hingga menyimpan bahan baku usaha membuat freezer berfungsi lebih dari sekadar tempat membekukan makanan.

Dalam penyimpanan makanan beku, suhu sekitar -18°C menjadi salah satu kondisi penting untuk menjaga bahan pangan tetap aman dan berkualitas. Suhu tersebut membantu memperlambat perkembangan mikroorganisme dan bakteri patogen sekaligus menekan proses enzimatis maupun reaksi kimia yang dapat mempercepat kerusakan makanan.

Persoalan muncul ketika listrik tiba-tiba padam. Hilangnya pasokan listrik dalam waktu tertentu dapat membuat temperatur di dalam freezer berangsur naik. Jika kondisi tersebut berlangsung cukup lama, mutu makanan yang disimpan berpotensi ikut terdampak.

Kondisi itu kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan perangkat penyimpanan makanan beku. Aqua Elektronik Indonesia, misalnya, memperkenalkan chest freezer AQF-150HC dengan kapasitas bersih 142 liter yang dilengkapi sistem untuk mempertahankan suhu dingin lebih lama ketika listrik terputus.

Head of Product Cold Chain Aqua Elektronik Indonesia Ferdiansyah mengatakan perubahan kebiasaan menyimpan makanan membuat kebutuhan terhadap freezer turut bergeser. Perangkat tersebut semakin berkaitan dengan cara konsumen mengatur persediaan makanan, baik untuk kebutuhan rumah maupun usaha.

“Saat ini freezer bukan lagi sekadar alat pembeku, melainkan penunjang gaya hidup yang mendukung pengelolaan stok makanan secara terencana dan efisien. Kami memahami konsumen membutuhkan solusi penyimpanan yang tak hanya handal mendinginkan, tetapi juga memberikan rasa tenang saat situasi tak terduga seperti pemadaman listrik. Melalui AQF-150HC, Aqua Elektronik ingin menghadirkan pengalaman penyimpanan frozen food yang praktis, fleksibel, dan higienis,” ujar Ferdiansyah.

Salah satu fitur pada perangkat tersebut adalah Up to 100 Hours Cooling Retention. Sistem ini menggunakan lapisan insulasi ekstra tebal High Density Foaming yang diklaim dapat membantu menjaga kondisi dingin hingga 100 jam saat listrik terputus, dengan catatan pintu freezer tetap tertutup rapat.

Perangkat tersebut juga menawarkan enam pilihan fungsi pendinginan melalui fitur 6 in 1 Convertible Freezer. Pengguna dapat memilih pengaturan sesuai kebutuhan, mulai dari pembekuan dengan intensitas tinggi, penyimpanan makanan beku, hingga mode pendinginan.

Untuk bahan pangan yang baru dibeli, tersedia Fast Freeze Function yang dirancang untuk mempercepat proses pembekuan. Dalam keterangan produk, proses pembekuan yang lebih cepat disebut dapat membantu mempertahankan karakteristik bahan seperti rasa, kesegaran, dan nutrisi, termasuk pada daging, makanan laut, serta produk beku olahan.

Dari aspek kebersihan, bagian dalam freezer menggunakan sistem Double Effective Antibacterial yang ditujukan untuk membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan mengurangi munculnya bau. AQF-150HC memiliki volume bersih 142 liter dengan kebutuhan daya input sebesar 80 watt.

Namun, kondisi freezer bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas makanan beku. Cara mengemas dan menyusun bahan makanan juga perlu diperhatikan. Penggunaan wadah yang memang dirancang untuk freezer atau kemasan kedap udara dapat membantu mengurangi paparan udara yang berlebihan dan menekan risiko freezer burn.

Freezer burn terjadi ketika permukaan makanan mengalami kehilangan air selama penyimpanan dalam kondisi beku. Dampaknya dapat terlihat pada perubahan tekstur maupun rasa bahan pangan.

Penataan bahan juga sebaiknya memperhatikan jenis makanan. Daging mentah, unggas, dan makanan laut idealnya ditempatkan terpisah dari makanan olahan beku ataupun makanan yang siap dikonsumsi. Pemisahan tersebut dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kontaminasi silang.

Pengaturan persediaan dapat menggunakan prinsip First In, First Out (FIFO). Bahan yang lebih dahulu dibeli atau disimpan ditempatkan pada posisi yang lebih mudah diambil sehingga dapat digunakan terlebih dahulu. Metode ini dapat membantu mencegah bahan makanan tertinggal terlalu lama dan akhirnya terbuang.

Kecepatan pembekuan turut berpengaruh terhadap kondisi bahan pangan setelah dicairkan. Pembekuan yang berlangsung lebih cepat cenderung membentuk kristal es yang lebih kecil di dalam jaringan makanan, sehingga struktur bahan dapat lebih terjaga ketika proses pencairan dilakukan.

Menurut Ferdiansyah, kebutuhan terhadap penyimpanan makanan beku juga berkembang sejalan dengan upaya masyarakat mengatur pengeluaran dan kebutuhan usaha kuliner yang membutuhkan fleksibilitas dalam menyimpan bahan.

“Kami melihat kebutuhan masyarakat terhadap pengelolaan pangan beku terus berkembang, baik untuk efisiensi anggaran rumah tangga maupun fleksibilitas operasional bisnis kuliner. AQF-150HC hadir menggabungkan perlindungan suhu, kebersihan, fleksibilitas penggunaan, dan efisiensi energi. Harapannya, konsumen memiliki kendali lebih baik dalam mengelola stok makanan sekaligus meminimalisasi risiko pemborosan bahan pangan,” pungkas Ferdiansyah. (E-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *