Fleksibilitas Jaringan Listrik Jadi Kunci Indonesia Percepat Energi Terbarukan dan Pertumbuhan Pusat Data AI
Ossi Ylinen, Managing Director PT Wärtsilä Indonesia (kedua dari kanan), Pieter Hokkeling, Director Growth and Development Wärtsilä Energy (keempat dari kiri), Febron Siregar, Energy Solutions Director, PT Wärtsilä Indonesia (ketiga dari kanan), Christoffe(Istimewa)

INDONESIA memasuki fase baru dalam transisi energinya, yang didorong oleh ekspansi energi terbarukan dan meningkatnya permintaan listrik dari industrialisasi, elektrifikasi, serta pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI). Kelompok teknologi global Wärtsilä menyoroti pentingnya fleksibilitas jaringan listrik untuk mendukung pertumbuhan ini sekaligus menjaga ketahanan energi dan menurunkan emisi.

Berdasarkan RUPTL 2025–2034, Indonesia berencana menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 GW pada 2034, yang mencakup 42,6 GW energi terbarukan dan 10,3 GW kapasitas gas baru. Seiring semakin besarnya kontribusi pembangkit tenaga surya dan angin dalam bauran energi, sistem tenaga listrik perlu menyeimbangkan pasokan yang semakin variatif dengan meningkatnya kebutuhan listrik dari sektor industri dan infrastruktur digital.

Managing Director PT Wärtsilä Indonesia, Ossi Ylinen, menilai bahwa kemampuan beradaptasi merupakan kunci utama dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah transisi ini.

“Ketahanan energi pada akhirnya berarti memiliki sistem tenaga listrik yang mampu beradaptasi. Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi dan digital. Dengan arsitektur sistem tenaga yang tepat, Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi, mengintegrasikan lebih banyak energi bersih secara signifikan, serta menyediakan fondasi yang andal untuk memenuhi kebutuhan energi masa depan,” ujar Ossi, dikutip Kamis (24/9).

Ambisi Indonesia untuk mengembangkan 100 GW tenaga surya menunjukkan skala dan kecepatan transisi energi negara ini. Seiring meningkatnya pembangkit listrik tenaga surya, kapasitas penyeimbang yang fleksibel akan memainkan peran penting dalam menjaga keandalan sistem ketika output tenaga surya berfluktuasi atau berhenti setelah matahari terbenam. Pembangkit listrik berbasis mesin dengan kemampuan start-up cepat menyediakan fleksibilitas operasional yang dibutuhkan untuk mengintegrasikan lebih banyak energi terbarukan sekaligus menjaga pasokan listrik tetap andal.

Kondisi geografis Indonesia yang membentang di wilayah kepulauan luas mulai dari sistem interkoneksi besar hingga pulau-pulau kecil terisolasi menambah kompleksitas tersendiri. Oleh karena itu, tidak ada satu solusi tunggal yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan sistem.

Menanggapi hal tersebut, Vice President, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy, Frederic Carron, menjelaskan bahwa teknologi berbasis mesin dirancang secara spesifik untuk melengkapi variabel energi terbarukan.

“Pembangkit listrik berbasis mesin Wärtsilä dirancang untuk melengkapi pembangkit energi terbarukan yang bersifat variabel. Mesin-mesin tersebut dapat dinyalakan dan mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit, serta output-nya dapat disesuaikan dengan cepat sesuai kebutuhan jaringan. Hal ini memungkinkan pembangkit memberikan kapasitas penyeimbang saat produksi energi terbarukan berfluktuasi, sehingga keandalan dan stabilitas sistem tetap terjaga,” jelas Frederic.

Frederic menambahkan, keputusan yang diambil saat ini akan menjadi penentu utama aspek ekonomi dan ketahanan sistem tenaga listrik Indonesia ke depan guna mencapai target net-zero. “Dengan memprioritaskan teknologi yang fleksibel, Indonesia dapat memperkuat keandalan jaringan, mempercepat integrasi energi terbarukan, dan mendukung perjalanan menuju target net-zero,” tuturnya.

Sementara itu, Energy Solutions Director PT Wärtsilä Indonesia, Febron Siregar, menegaskan bahwa fokus ke depan bukan sekadar membangun kapasitas besar, melainkan efektivitas integrasinya.

“Tahap berikutnya dalam transisi energi Indonesia bukan hanya mengenai seberapa besar kapasitas energi terbarukan yang dibangun, tetapi juga seberapa efektif energi tersebut dapat diintegrasikan dan dimanfaatkan. Perencanaan sistem tenaga yang lebih fleksibel sejak saat ini dapat membantu Indonesia menghindari tantangan keandalan dan stabilitas ketika penetrasi energi terbarukan semakin tinggi,” ungkap Febron.

Dekarbonisasi Indonesia dalam jangka panjang memerlukan lebih dari sekadar mengganti satu sumber pembangkitan dengan sumber lainnya. Kemajuan akan sangat bergantung pada seberapa efektif energi terbarukan, penyimpanan energi, infrastruktur transmisi, dan kapasitas pembangkit bekerja bersama dalam keseluruhan sistem. Pendekatan Wärtsilä sendiri menggabungkan pembangkit energi terbarukan, penyimpanan energi, dan mesin fleksibel, yang ke depannya juga disiapkan untuk menggunakan bahan bakar berkelanjutan berskala komersial.

Solusi untuk Lonjakan Permintaan Pusat Data

Di sisi lain, perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud computing), and layanan digital sedang mengubah pola permintaan listrik. Pusat data membutuhkan kapasitas daya besar dan terkonsentrasi, sering kali di lokasi yang infrastruktur jaringannya masih terbatas.

Wärtsilä melihat peluang jangka menengah hingga panjang di Asia, termasuk Indonesia. Pembangkit listrik modular berbasis mesin gas yang fleksibel dapat menyediakan pasokan listrik utama di lokasi dengan kapasitas jaringan terbatas, yang kapasitasnya dapat ditambah secara bertahap seiring pertumbuhan pusat data. Ketika jaringan utama sudah tersedia, aset ini dapat beralih fungsi sebagai pembangkit beban puncak (peaking plant) atau penyeimbang fluktuasi sistem.

General Manager, Market Development, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy, Patrik Farkas, memaparkan bahwa kecepatan suplai listrik kini menjadi faktor krusial bagi para pengembang teknologi.

“Bagi pusat data, kecepatan memperoleh pasokan listrik kini hampir sama pentingnya dengan akses terhadap listrik itu sendiri. Para pengembang semakin menilai infrastruktur energi sebagai bagian strategis dari keputusan investasi mereka. Pembangkitan listrik onsite yang dapat diskalakan memungkinkan proyek berjalan meskipun kapasitas jaringan terbatas, sambil tetap mempertahankan opsi untuk mengalihkan fungsi aset tersebut ketika sistem tenaga di sekitarnya berkembang,” papar Patrik.

Pengalaman global Wärtsilä menunjukkan besarnya potensi ini, dengan penjualan proyek pusat data berkapasitas lebih dari 2,4 GW di AS dan Eropa. Perusahaan mengidentifikasi Indonesia, Malaysia, Jepang, and Australia sebagai pasar strategis ke depan. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *