Penyebab Microphone Bunyi dan Cara Mengatasinya Menurut Ahli Sennheiser
Ilustrasi(MI/RIFALDI PUTRA)

PERNAHKAH Anda sedang mengikuti sebuah acara, lalu tiba-tiba terdengar suara melengking atau bunyi “nging” yang memekakkan telinga dari microphone? Suara tersebut dikenal dalam dunia audio sebagai feedback, dan menjadi salah satu masalah yang paling sering muncul dalam produksi acara.

Manager Technical Application Engineering Sennheiser, Volker Schmitt, menjelaskan lebih dalam mengenai fenomena ini. Menurutnya, feedback bukanlah sekadar gangguan teknis biasa, melainkan berkaitan erat dengan prinsip dasar fisika.

Penyebab Utama Feedback

Volker mengungkapkan bahwa feedback terjadi ketika suara yang keluar dari speaker kembali masuk ke dalam microphone, yang kemudian diperkuat lagi oleh sistem audio secara terus-menerus.

“Feedback berkaitan dengan prinsip fisika. Ini terjadi ketika suara dari speaker kembali masuk ke microphone, kemudian diperkuat lagi oleh sistem audio,” ujar Volker pada Rabu (23/9/2026).

Jika proses perputaran suara ini terus berulang, frekuensi tertentu akan menjadi semakin kuat hingga menghasilkan bunyi melengking yang mengganggu pendengaran audiens.

Dua Pendekatan Mengatasi Bunyi Melengking

Terkait solusi, Volker menegaskan bahwa masalah ini dapat diatasi melalui dua pendekatan utama, yaitu penggunaan perangkat yang mumpuni atau melalui pendekatan signal processing.

Namun, Volker secara pribadi lebih menyarankan pendekatan konvensional atau old school untuk menjaga kualitas suara tetap optimal. Beberapa langkah yang ia rekomendasikan meliputi:

  • Pemilihan microphone transducer yang tepat.
  • Penggunaan kapsul mikrofon yang sesuai dengan kebutuhan ruang.
  • Pengaturan mixing desk yang presisi.
  • Penempatan posisi speaker yang benar agar suaranya tidak tertangkap kembali oleh mikrofon.

Kelemahan Digital Signal Processing

Meskipun pendekatan digital signal processing (DSP) secara teknis dapat mempermudah pekerjaan karena teknisi tidak perlu repot mencari perangkat kelas atas, Volker menilai ada harga yang harus dibayar.

“Pendekatan itu mengorbankan suara yang dihasilkan menjadi kurang maksimal,” jelasnya. Penggunaan pemrosesan digital yang berlebihan seringkali membuat karakter suara asli menjadi berubah atau tidak alami.

Sebagai penutup, Volker menekankan pentingnya edukasi bagi para teknisi audio. Ia menilai pemahaman terhadap konsep dasar fisika suara adalah kunci utama dalam menangani masalah feedback secara efektif tanpa mengorbankan kualitas audio.

”Ketika kita sudah memahami konsepnya, kita dapat menemukan cara yang tepat untuk mengatasinya,” pungkas Volker.(H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *