Pentagon Ungkap Kematian Tentara Ke-19 AS dalam Perang Iran
Gambar 31 Juli 2026 ini memperlihatkan upacara pemakaman Sersan Angkatan Darat Angel Rampersad setelah ia gugur dalam tugas pada 17 Juli di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania.(Dok Newsweek)

JUMLAH korban jiwa militer Amerika Serikat (AS) yang terkait dengan perang Iran dilaporkan meningkat menjadi 19 orang menyusul kematian seorang perwira perempuan. Insiden terbaru ini menambah panjang daftar korban di tengah perdebatan mengenai transparansi data korban oleh pemerintahan Donald Trump.

Menurut laporan dari publikasi militer Task & Purpose, anggota layanan tersebut mengalami keadaan darurat medis yang fatal saat terbang menuju Arab Saudi dalam penerbangan militer. Berdasarkan basis data korban Pentagon, Defense Casualty Analysis System (DCAS), personel tersebut diidentifikasi sebagai perwira wanita berusia di atas 35 tahun.

Kontroversi Jumlah Korban Jiwa

Kematian terbaru itu tercatat sebagai korban ke-19 dalam dua bagian basis data yang merujuk pada perang Iran. Namun, angka resmi ini memicu pertanyaan mengenai praktik akuntansi korban oleh pemerintah. Laporan dari The Washington Post pekan lalu menyebutkan bahwa jumlah tentara AS yang tewas di Timur Tengah sejak konflik Iran dimulai pada 28 Februari 2026, kemungkinan lebih tinggi dari yang diungkapkan secara publik.

Lima pejabat AS mengatakan kepada The Post bahwa setidaknya 22 anggota layanan tewas sejak perang dimulai. Bahkan, seorang pejabat keenam menyebutkan angka kematian telah mencapai 23 jiwa.

Data Korban Berdasarkan DCAS (Hingga Selasa, 22 September 2026):

  • Total Kematian: 19 personel (akibat tindakan musuh maupun non-musuh).
  • Total Luka-Luka: Lebih dari 820 personel.
  • Kematian Non-Hostile: Termasuk seorang perwira Angkatan Laut dalam kecelakaan helikopter dan enam penerbang dalam kecelakaan pesawat tanker KC-135.

Rincian Pertempuran dan Revisi Data

Ketika pertempuran kembali pecah pada bulan Juli setelah gencatan senjata, tiga tentara AS tewas di Yordania akibat serangan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, yang berulang kali menjadi target Iran. Seorang tentara keempat tewas di Irak saat mencoba melumpuhkan drone Iran yang jatuh.

Pentagon sempat menuai kontroversi pada bulan Juli lalu ketika menurunkan angka kematian resmi dari 18 menjadi 14 setelah menghapus empat nama anggota layanan dari daftar. Pihak Pentagon membantah hal tersebut sebagai upaya menyembunyikan jumlah korban dan menyatakan bahwa perubahan itu terjadi akibat gangguan data sementara yang akan segera diperbaiki.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dengan tegas menolak klaim bahwa angka korban perang tidak akurat. “Bahkan jika kami ingin mencoba menyembunyikan kematian dalam pertempuran, kami tidak akan pernah melakukannya dan kami tidak akan pernah bisa,” tegas Hegseth pekan lalu. (Newsweek/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *