Firasat Haryono sebelum Alami Tragedi Kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa
Korban kapal Virgo Transport 8 tenggelam di Laut Jawa Haryono (berkaos hitam) bersyukur karena selamat dari musibah itu.(Dok Istimewa )

SUASANA haru menyelimuti kediaman Haryono, 58, di Desa Diwak, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tetangga, kerabat, dan saudara silih berganti mengunjungi pria paruh baya tersebut setelah mendengar kabar dirinya selamat dari musibah tenggelamnya kapal Virgo Transport 8 di Perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu (13/9).

Haryono, yang tampak masih bugar meski baru saja melewati peristiwa traumatis, berkali-kali mengucap syukur. Ia merupakan satu dari 16 orang rombongan asal Langensari, Semarang, yang melakukan perjalanan menuju Banjarmasin. Namun, dari total rombongan tersebut, lima orang rekan Haryono hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Rentetan Firasat Buruk Sebelum Keberangkatan

Perjalanan yang dimulai pada Jumat (11/9) itu ternyata sudah diwarnai berbagai kejadian janggal yang dirasakan Haryono sebagai firasat buruk. Ia menceritakan, tanda pertama muncul saat dirinya menghadiri acara tasyakuran di gedung PAUD; makanan berkat yang dibawanya tumpah tepat di depan rumah saat pulang.

Gangguan berlanjut ketika rombongan mulai bergerak menuju pelabuhan di Surabaya. Mobil yang mereka tumpangi mengalami pecah ban sebanyak dua kali, yakni di wilayah Sragen dan Ngawi. Meski sempat merasa berat hati, Haryono tetap melanjutkan perjalanan demi mengejar jadwal kapal.

“Sesampainya di pelabuhan, jadwal keberangkatan kapal yang seharusnya pukul 05.00 WIB ternyata diundur menjadi pukul 10.00 WIB. Di atas kapal, saya sempat tertidur dan bermimpi kapal tenggelam, tapi saya hanya menganggapnya bunga tidur,” kenang Haryono.

Detik-Detik Kapal Tenggelam dan Perjuangan di Laut

Musibah terjadi pada dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Haryono terbangun karena teriakan penumpang lain yang mengabarkan bahwa kapal akan tenggelam. Dalam kondisi kapal yang sudah miring dan sulit bergerak, ia segera mencari pelampung dan bergegas menuju dek atas.

Nahas, hempasan gelombang setinggi 5 meter membuatnya terlempar ke laut yang gelap. “Saya berusaha naik ke permukaan dan melihat ada sekoci yang mengambang. Saya segera menggapainya,” tuturnya. Di tengah gempuran ombak besar, Haryono juga membantu korban lain naik ke sekoci. Agar tidak terlempar kembali ke laut saat tenaga mulai terkuras, ia terpaksa mengikat tangannya dengan tali pada sekoci tersebut.

Evakuasi dan Kepulangan

Setelah berjam-jam terombang-ambing, bantuan akhirnya datang sekitar pukul 10.00 WIB. Kapal nelayan Cahaya Bahari asal Pati menemukan mereka. Di kapal nelayan tersebut, ternyata sudah ada 12 korban lain yang diselamatkan, sehingga total korban selamat yang dievakuasi saat itu berjumlah 22 orang.

Pihak nelayan kemudian berkoordinasi dengan tim SAR. Tak lama berselang, kapal TNI dan Basarnas tiba untuk memindahkan para korban. Haryono beserta korban lainnya dievakuasi menggunakan KRI Nala milik TNI AL menuju Banjarmasin untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan pendataan.

“Setelah seluruh proses penanganan selesai, kami dipulangkan ke Jawa menggunakan pesawat terbang. Saya baru sampai di rumah pada Sabtu (19/9) kemarin,” pungkas Haryono. (AS/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *