
INTERVENSI yang tepat dinilai menjadi kunci utama bagi anak dengan gangguan belajar spesifik, seperti disleksia, untuk membangun mekanisme koping yang efektif. Hal ini diperlukan agar anak tetap mampu mencapai target pembelajaran di sekolah meski memiliki keterbatasan tertentu.
Dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial konsultan, dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp. T.K.P.S.(K), menjelaskan bahwa penanganan gangguan belajar spesifik tidak bertujuan untuk menghilangkan kondisi tersebut secara total, melainkan membantu anak menerapkan strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Bukan bisa muncul lagi, tapi menetap saja memang. Tapi diharapkan bisa koping,” ujar Farid dalam seminar daring yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dikutip Senin (21/9)
Ia menekankan bahwa intervensi harus dilakukan secara terstruktur dan intensif, disesuaikan dengan jenis kesulitan yang dihadapi anak. Sebagai contoh, anak dengan disleksia memerlukan pendekatan khusus seperti pembelajaran fonik sistematis, latihan dekoding, serta dukungan berkelanjutan untuk melatih kelancaran membaca.
Peran Lingkungan dan Tenaga Profesional
Selain intervensi teknis, Farid menggarisbawahi pentingnya ekosistem yang mendukung, mulai dari rumah hingga sekolah. Kolaborasi antara orangtua, guru, dan tenaga medis menjadi fondasi utama perkembangan potensi anak.
| Pihak Terkait | Bentuk Dukungan & Intervensi |
|---|---|
| Orangtua | Mengurai tugas menjadi langkah kecil, menggunakan media visual/audio, dan memberikan apresiasi atas usaha anak. |
| Guru/Sekolah | Identifikasi kesulitan dini dan penyesuaian pembelajaran baik secara individual maupun kelompok. |
| Tenaga Profesional | Melakukan asesmen, diagnosis, identifikasi kondisi penyerta, serta menyusun dan memantau rencana intervensi. |
Jika langkah-langkah di lingkungan rumah dan sekolah belum membuahkan hasil yang signifikan, Farid menyarankan agar orangtua dan guru segera berkoordinasi untuk mendapatkan penilaian dari tenaga kesehatan profesional.
Meskipun gangguan belajar spesifik bersifat menetap, Farid optimistis bahwa anak-anak tersebut tetap memiliki peluang besar untuk berkembang.
“Jadi targetnya sama, bagaimana anak ini bisa mencapai target pembelajaran yang sama dengan teman-temannya,” pungkasnya.
Dengan dukungan yang tepat dan strategi koping yang kuat, anak dengan gangguan belajar spesifik diharapkan mampu mengatasi hambatan akademis dan mengoptimalkan potensi yang mereka miliki. (Ant/Z-1)
