
EMPAT dekade pengabdian Search and Rescue Universitas Hasanuddin (SAR Unhas) menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan dan kolaborasi dalam menghadapi berbagai risiko bencana di Indonesia.
Semangat tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Kebencanaan yang digelar Panitia 40 Tahun SAR Unhas di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (21/9). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 40 tahun pengabdian SAR Unhas.
Seminar tersebut turut dihadiri Deputi Bidang Tenaga dan Potensi Pencarian dan Pertolongan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Moh. Barokna Haulah, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, serta mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Umar Arsal.
Mengangkat tema “Antisipasi Kebencanaan Aktual dan Partisipasi Publik dan Komunitas”, seminar juga dirangkai dengan peluncuran buku Rumah Jingga Tamalanrea, Cikal Bakal SAR Mahasiswa: 40 Tahun SAR Unhas yang digagas Umar Arsal.
Sebagai pencetus buku tersebut, Umar berharap dokumentasi perjalanan SAR Unhas selama empat dekade dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama bagi mahasiswa yang memiliki jiwa kerelawanan.
Pasalnya, jelas Umar, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Posisi geografis Indonesia di garis khatulistiwa, kawasan Ring of Fire, serta pertemuan tiga lempeng tektonik utama membuat Indonesia menghadapi beragam potensi bencana, mulai dari gempa bumi, erupsi gunung berapi, banjir, tanah longsor hingga cuaca ekstrem.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat itu mengatakan, SAR Unhas telah memiliki pengalaman dalam terlibat pada penanganan berbagai bencana besar di Indonesia.
Kehadiran tim SAR Unhas, menurut dia, menunjukkan bahwa kesiapsiagaan dan penanganan yang tepat dapat membantu meminimalkan korban jiwa.
“Peningkatan literasi kebencanaan, sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat, serta kolaborasi berbagai pihak menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana,” ujarnya.
Melalui seminar tersebut, Panitia 40 Tahun SAR Unhas mengajak berbagai elemen masyarakat, mulai dari relawan, akademisi, pemerintah, komunitas, dunia usaha, pemuda hingga media, untuk bersama-sama memperkuat ketangguhan bangsa dalam menghadapi risiko bencana.
Sementara itu, Deputi Bidang Tenaga dan Potensi Pencarian dan Pertolongan Basarnas Moh. Barokna Haulah menyambut baik peluncuran buku yang mendokumentasikan perjalanan 40 tahun SAR Unhas tersebut.
Menurutnya, keberadaan SAR Unhas turut membantu tugas Basarnas dalam penanganan berbagai kondisi kebencanaan. Kolaborasi antara akademisi, relawan, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat dinilai penting untuk memperkuat ekosistem penanggulangan bencana yang responsif, adaptif, dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Basarnas juga mengimbau masyarakat untuk senantiasa mengantisipasi berbagai kemungkinan bencana. Peluncuran buku perjalanan 40 tahun pengabdian SAR Unhas diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga bahan pembelajaran bagi generasi muda dan para relawan di masa mendatang. (I-1)
