Nelayan Aceh Selatan yang Hilang di Samudra Hindia Ditemukan Meninggal Dunia
Nelayan Aceh saat pulang berlayar karena cuaca buruk di Selat Malaka, Kabupaten Pidie, Aceh.(Dok. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

EDI Yanto, 40, nelayan asal Gampong (Desa) Tanjung Harapan, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan, yang dilaporkan hilang terseret ombak sejak Rabu (16/9) di perairan Samudra Hindia, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Jumat (18/9).

Jenazah Edi ditemukan terapung sekitar 12 mil dari tepi pantai Meukek setelah tim gabungan yang terdiri dari Basarnas Aceh Selatan, TNI/Polri, dan warga nelayan setempat melakukan pencarian intensif selama dua hari.

“Alhamdulillah telah berhasil ditemukan pada 12 mil di lepas pantai Meukek, lokasi di mana Edi turun ke laut,” ujar Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Aceh, Azwar Anas, kepada Media Indonesia, Sabtu (19/9).

Penemuan ini bermula dari penyisiran yang diperluas oleh tim gabungan. Sebelumnya, pada Kamis (17/9), tim sempat menemukan fiber perlengkapan boat kayu milik korban. Lokasi pencarian yang awalnya difokuskan pada radius 3 mil kemudian dilebarkan hingga mencapai 12 mil lepas pantai Meukek pada Kamis pagi.

Titik terang muncul ketika tim melihat benda mengapung yang terombang-ambing gelombang laut. Setelah didekati, dipastikan bahwa benda tersebut adalah jasad Edi Yanto. Jenazah korban segera dievakuasi ke kapal tim pencari dan dibawa menuju posko evakuasi di kawasan Keude (Pasar) Meukek.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas medis dan dipastikan telah meninggal dunia, jenazah langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses fardhu kifayah dan pemakaman.

“Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pencarian dan evakuasi. Semoga seluruh keluarga tabah dan sabar menerima cobaan ini,” tutur Geusyik (Kepala Desa) Tanjung Harapan, Muniruddin.

Kronologi Kejadian

Peristiwa nahas ini bermula saat Edi Yanto berangkat melaut sendirian menggunakan boat kayu ukuran kecil (boat rabin) pada Rabu (16/9) sekitar pukul 05.00 WIB. Ia berangkat dari kediamannya di pesisir Tanjung Harapan untuk menjaring dan memancing ikan, aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan rutin nelayan setempat.

Namun, kondisi cuaca di perairan Samudra Hindia yang meliputi wilayah Aceh Selatan dan Aceh Barat saat ini dilaporkan sedang buruk. Gelombang tinggi antara 2 hingga 4 meter kerap melanda perairan tersebut, yang diduga menjadi faktor penyebab kecelakaan laut yang menimpa korban.

Kecurigaan muncul ketika Edi tidak kunjung kembali hingga Rabu sore, sementara rekan-rekan seprofesinya sudah mendarat di tepi pantai Tanjung Harapan maupun dermaga pelabuhan ikan Pasie Meukek. Hal inilah yang memicu dimulainya operasi pencarian oleh tim gabungan dan warga. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *