12 Balita Positif Campak, Dinkes Kota Banjar Kejar Imunisasi 14.385 Anak
Dinas Kesehatan Kota Banjar melakukan imunisasi campak atau Outbreak Response Immunization (ORI) menyasar 14.385 balita.(Dok. DInkes Kota Banjar)

PEMERINTAH Kota Banjar melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) tengah gencar melaksanakan imunisasi campak atau Outbreak Response Immunization (ORI) yang menyasar 14.385 balita. Langkah darurat ini diambil setelah ditemukannya 12 balita yang dinyatakan positif campak berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan (Labkesda) Provinsi Jawa Barat.

Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Kota Banjar, Dani Firmansyah, mengungkapkan bahwa sepanjang periode Januari hingga September 2026, tercatat ada 75 orang suspek campak. Dari jumlah tersebut, 12 balita terkonfirmasi positif melalui uji laboratorium.

“Dinas Kesehatan Kota Banjar tengah gencar melakukan imunisasi campak atau ORI dengan melibatkan 10 puskesmas setelah ditemukan 12 anak positif tertular penyakit campak. Namun, seluruh pasien telah berhasil disembuhkan setelah sempat menjalani perawatan di ruang khusus,” ujar Dani Firmansyah, Minggu (20/9/2026).

Dani menjelaskan, meski ditemukan kasus positif, secara umum tidak terjadi peningkatan kasus yang signifikan di wilayahnya. Sebagai langkah antisipasi, Dinkes melibatkan 10 Puskesmas untuk mengejar target imunisasi tahun 2026. Hingga saat ini, tercatat sekitar 2.600 balita telah mengikuti imunisasi susulan melalui pendekatan edukasi kepada orang tua.

“Imunisasi campak yang dilakukan ini semuanya gratis atau tidak dipungut biaya. Kami mengimbau para ibu yang memiliki balita untuk segera memeriksakan anaknya agar kekebalan tubuh terbentuk dan penyakit campak bisa dicegah,” tambahnya.

Edukasi dan Kewaspadaan Tenaga Kesehatan

Dinkes Kota Banjar berkomitmen memperluas cakupan imunisasi bagi anak usia 9 bulan, 18 bulan, hingga siswa kelas 1 SD sederajat tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya memutus rantai penularan dan menekan angka kasus di masa depan.

Selain menyasar masyarakat, petugas kesehatan di puskesmas juga diminta meningkatkan kewaspadaan dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) dan masker saat bertugas.

Dani berharap tenaga kesehatan dapat memperketat deteksi dini terhadap gejala-gejala tersebut agar pasien segera mendapatkan perawatan intensif. Ia juga mengingatkan agar pasien yang bergejala tidak disatukan dengan anak yang sehat, termasuk dalam hal peralatan makan.

“Terpenting adalah selalu menjaga jarak, rutin mencuci tangan, dan meningkatkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan keluarga,” pungkasnya. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *