Hidrogen dan Biometana Diproyeksikan Jadi Energi Baru untuk Industri
Kawasan industri mulai beralih ke energi bersih melalui pemanfaatan energi surya, biometana, hingga hidrogen.(Dok. KIJA)

PENGEMBANGAN energi rendah karbon mulai diperluas di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Bekasi, untuk membantu perusahaan menekan emisi karbon. Sumber energi yang disiapkan mencakup gas, biometana, energi surya, sistem penyimpanan energi hingga hidrogen.

PT Pertamina (Persero) dan PT Jababeka Tbk (KIJA) menjadi pihak yang berkolaborasi dalam pengembangan energi bersih tersebut.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan, pengembangan sumber energi rendah karbon akan menjadi salah satu fokus kolaborasi Pertamina dan Jababeka dalam beberapa tahun mendatang.

“Memasuki 2027, kami fokus mengembangkan alternatif energi hijau lain seperti hidrogen, biometana, hingga potensi panas bumi,” kata Agung dalam seminar bertajuk Ketahanan Energi dan Keberlanjutan dengan Transisi Energi: Menuju Net Zero Industrial Estate with Energy Security di Cikarang, Bekasi.

Selain hidrogen dan biometana, kerja sama tersebut mencakup pemanfaatan gas pipa, panel surya, Battery Energy Storage System (BESS), serta kredit karbon.

Pertamina dan Jababeka juga menjajaki pemanfaatan hidrogen hijau untuk mendukung transportasi rendah karbon yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan berbasis transportasi umum.

Agung menilai sejumlah perusahaan yang beroperasi di Kawasan Industri Jababeka mulai menunjukkan langkah konkret dalam menjalankan agenda dekarbonisasi.

Salah satunya Unilever yang tengah mengembangkan penggunaan biometana bersama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Sementara Astemo disebut telah meningkatkan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya atapnya dari sekitar 1,2 megawatt menjadi lebih dari 2 megawatt dalam tiga tahun terakhir.

“Ini menunjukkan para tenant yang menyampaikan komitmen menjadi net zero industrial cluster juga telah menindaklanjutinya, dengan dukungan peran Jababeka Infrastruktur,” ujar Agung.

Menurut dia, Pertamina melalui Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) dan PGN akan terus mengembangkan solusi energi sesuai kebutuhan perusahaan di kawasan industri tersebut.

PLTS Tenant Capai 14,5 MWp

Penggunaan energi surya di Kawasan Industri Jababeka juga terus bertambah.

Salah satu proyek yang lebih dahulu berjalan adalah PLTS atap berkapasitas 230 kWp di fasilitas pengolahan air atau WTP Jababeka yang dikembangkan bersama Pertamina NRE.

Sejak beroperasi pada 2023, PLTS tersebut telah menghasilkan listrik sekitar 858,21 MWh. Berdasarkan data pengelola, pemanfaatannya diperkirakan telah mengurangi emisi sekitar 734 ton CO2e.

Hingga September 2026, sebanyak 23 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka tercatat telah menggunakan PLTS dengan total kapasitas sekitar 14,5 MWp.

Direktur Utama Jababeka Infrastruktur Didik Purbadi mengatakan, pengembangan energi bersih menjadi bagian dari transformasi kawasan industri untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan dampak lingkungan dari kegiatan manufaktur.

Menurut Didik, konsep kawasan industri berkelanjutan telah dikembangkan Jababeka sejak awal pembangunan kawasan di Cikarang. Infrastruktur yang dikembangkan antara lain pembangkit listrik berbahan bakar gas, pengolahan air permukaan, instalasi pengolahan air limbah terpadu, hingga fasilitas dry port.

Penggunaan dry port dan kereta api menuju pelabuhan, kata dia, juga menjadi bagian dari upaya menekan aktivitas logistik berbasis jalan raya serta emisi transportasi.

Saat ini Kawasan Industri Jababeka dihuni sekitar 2.000 perusahaan dari 36 negara.

Limbah Juga Dibidik Jadi Energi

Kolaborasi Pertamina dan Jababeka tidak hanya diarahkan pada penyediaan energi baru dan terbarukan.

Agung mengatakan, kedua perusahaan juga melihat potensi penyelesaian persoalan lingkungan melalui pengolahan limbah menjadi energi atau waste to energy.

Gas yang berasal dari pengolahan limbah, misalnya, berpotensi dikembangkan menjadi hidrogen yang selanjutnya dapat dimanfaatkan baik untuk kebutuhan industri maupun sektor transportasi.

“Kami yakin dengan dukungan Jababeka Infrastruktur, komitmen para tenant ini dapat terwujud dan dapat mendorong pemerintah menyiapkan regulasinya sehingga tujuan itu bisa tercapai,” kata Agung.

Kolaborasi Pertamina dan Jababeka dalam agenda dekarbonisasi telah dirintis sejak 2022. Tahun ini, kedua perusahaan kembali melanjutkan kerja sama dengan fokus pada penyediaan dan pengembangan berbagai sumber energi rendah karbon bagi perusahaan yang beroperasi di Kawasan Industri Jababeka.

Kerja sama tersebut juga melibatkan komunitas Jababeka Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC), yang beranggotakan perusahaan-perusahaan di kawasan dengan program terkait efisiensi energi, pengurangan emisi dan penerapan industri hijau. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *