
MENGENALI wajah seseorang hanya dalam hitungan detik sering kali dianggap sebagai bentuk pengenalan yang utuh. Namun, bagi Rajata Hakim, seniman multidisipliner berusia 22 tahun, hal tersebut justru menjadi titik awal sebuah pertanyaan besar: apakah kita benar-benar mengenal apa yang kita lihat? Pertanyaan reflektif ini menjadi ruh utama dalam pameran tunggal perdananya bertajuk Terlihat / Terasa.
Berlangsung di ArtSphere Gallery, Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan, pameran ini merupakan bagian dari Project 1830 yang dikuratori oleh Melissa Sunjaya. Rajata menghadirkan 63 potret orang asing yang dilukis menggunakan cat akrilik di atas kertas kalkir berukuran A4. Karya-karya ini merupakan bagian dari total 150 potret yang sebelumnya sempat dipamerkan secara utuh di Taman Ismail Marzuki (TIM).
Melampaui Pengamatan Visual
Bagi Rajata, wajah bukanlah objek statis. Ia meyakini bahwa semakin lama seseorang diperhatikan, semakin nyata keterbatasan manusia dalam mengubah pengamatan menjadi pemahaman yang mendalam. Oleh karena itu, ia sengaja membiarkan ketidakpastian tetap hadir dalam setiap guratannya.
“Saya tertarik pada titik ketika memandang mulai terasa seperti mengetahui, padahal kita kerap keliru menganggap keduanya sama. Keterbatasan tersebut justru saya biarkan membentuk karya,” ujar Rajata Hakim menjelaskan filosofi di balik proses kreatifnya.
Eksplorasi ini tidak hanya berhenti pada indra penglihatan. Dalam Terlihat / Terasa, pengalaman pengunjung diperluas melalui elemen audio. Beberapa potret dipasangkan dengan rekaman suara anonim dari para partisipan yang mendeskripsikan diri mereka sendiri. Kontradiksi antara visual yang ditangkap mata dan narasi suara yang didengar telinga menciptakan ruang bagi publik untuk mempertanyakan interpretasi mereka sendiri terhadap orang lain.
Enigma Sejarah dan Konsep Amongrasa
Salah satu sorotan dalam pameran ini adalah interpretasi Rajata terhadap sosok Pangeran Diponegoro. Alih-alih menampilkan wajah sang pahlawan secara gamblang, Rajata memilih untuk menyamarkannya. Figur yang menunggangi kuda putih tersebut dibiarkan menjadi sebuah enigma, memberikan kebebasan bagi pengunjung untuk membangun memori kolektif mereka sendiri.
Pendekatan artistik Rajata sangat dipengaruhi oleh konsep amongraga dan amongrasa. Amongraga berkaitan dengan disiplin teknis dalam memberikan bentuk lahiriah pada gagasan, sementara amongrasa adalah penghayatan batin yang memberikan makna. Kurator Melissa Sunjaya mencatat bahwa karya Rajata tidak mencoba menghadirkan masa lalu sebagai sesuatu yang sudah selesai, melainkan sebagai proses pengarsipan yang terus berkembang.
| Seniman | Rajata Hakim (22 Tahun) |
| Kurator | Melissa Sunjaya |
| Lokasi | ArtSphere Gallery, Dharmawangsa Square Lt. 2, Jakarta Selatan |
| Periode | Hingga 27 September 2026 |
| Jumlah Karya | 63 Potret (dari total 150 koleksi) |
| Medium | Akrilik di atas kalkir, kanvas, kayu, tas, instalasi |
Jejak Disiplin Atlet dan Intuisi Seni
Latar belakang Rajata yang unik turut mewarnai kedisiplinannya dalam berkarya. Sebelum memfokuskan diri pada seni rupa di University of British Columbia (Kanada) dan BINUS University, ia adalah seorang atlet bola basket yang pernah mewakili Indonesia dan meraih gelar MVP.
Disiplin atletik inilah yang ia bawa ke dalam studio, bekerja secara terstruktur namun tetap terbuka pada kerentanan dan ketidaksempurnaan material.
Melalui pameran ini, publik diajak untuk berhenti sejenak dari kebiasaan menilai secara instan. Terlihat / Terasa adalah sebuah undangan untuk tinggal lebih lama bersama sebuah objek atau subjek, hingga kita menyadari bahwa apa yang terlihat hanyalah permukaan dari sebuah kedalaman yang mungkin tak pernah benar-benar tuntas untuk dipahami. (Z-1)
