
PENYELENGARAAN Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, menuai banyak kritik khususnya terkait akomodasi atlet. Namun, upaya Jepang dinilai dapat menjadi contoh baru dalam menggelar ajang olahraga internasional tanpa membebani anggaran.
Asian Games 2026 akan dibuka di Stadion Paloma Mizuho Stadium, Nagoya, Sabtu (19/9). Penyelenggaraan kali ini mendapat sorotan terkait ketersediaan akomodasi. Jepang tidak membangun perkampungan atlet seperti yang lazim dilakukan. Keputusan itu diambil sebagai bagian dari upaya menekan biaya.
Komite Olimpiade Asia (OCA) menilai langkah Jepang menghemat biaya penyelenggaraan patut menjadi contoh negara lain yang ingin menjadi tuan rumah ajang multievent. Direktur Jenderal OCA Husain Al-Musallam mengatakan pendekatan Jepang justru menunjukkan adanya upaya mencari model baru untuk mengurangi biaya penyelenggaraan.
Menurutnya, negara tuan rumah tidak seharusnya mengeluarkan investasi besar yang kemudian tidak memberikan manfaat setelah ajang berakhir. Dia menegaskan OCA juga mempertimbangkan dampak penyelenggaraan setelah Asian Games berakhir. Investasi yang dikeluarkan tuan rumah, kata dia, harus memiliki manfaat jangka panjang dan tidak berakhir menjadi beban.
“Semua orang berbicara mengenai biaya Asian Games dan bagaimana ajang ini harus dikelola. Jepang kemudian menawarkan gagasan baru dengan tidak membangun perkampungan atlet,” kata Al-Musallam.
“Hal terpenting bagi OCA adalah apa yang terjadi setelah penutupan. Apa yang akan terjadi pada investasi yang sudah dikeluarkan? Kami tidak ingin Jepang kehilangan uang tanpa mendapatkan manfaat apa pun,” lanjutnya.
Al-Musallam menyebut pendekatan Aichi-Nagoya dapat menjadi rujukan bagi negara lain yang ingin menjadi tuan rumah kompetisi olahraga internasional. Menurut dia, penyelenggaraan dengan biaya lebih terkendali semakin penting bagi masa depan ajang multievent.
“Apa yang dilakukan Jepang, Aichi-Nagoya, dan OCA di sini bisa menjadi contoh untuk menekan biaya penyelenggaraan ajang multisport seperti Asian Games pada masa mendatang,” tutur Al-Musallam.
Meski menghadapi kritik mengenai akomodasi, penyelenggara tetap menjalankan konsep tersebut dengan alasan efisiensi. Model tanpa perkampungan atlet sekaligus menjadi salah satu eksperimen penting dalam penyelenggaraan Asian Games 2026.
Sekitar 4.000 peserta ditempatkan di kapal pesiar Costa Serena yang bersandar di Pelabuhan Nagoya. Sementara itu, sekitar 2.000 peserta lainnya menempati bangunan kayu bergaya kabin yang disiapkan panitia. Peserta lainnya tinggal di hotel-hotel di Nagoya dan wilayah Prefektur Aichi.
Meski begitu, pilihan akomodasi tersebut menuai keluhan dari sejumlah kontingen. Beberapa negara mempersoalkan ketersediaan kamar serta kualitas fasilitas, terutama bangunan yang menggunakan konsep menyerupai kontainer. (AFP/P-3)
