
KEMARAHAN publik di Israel meledak menyusul penayangan film dokumenter berjudul NAZA. Namun, di balik hiruk-pikuk reaksi emosional tersebut, terdapat kenyataan pahit yang sulit dibantah: kesaksian mengenai yang terjadi di Jalur Gaza, Palestina menunjukkan ada indikasi kuat kejahatan perang yang dilakukan oleh militer Israel (IDF).
Meskipun banyak warga Israel belum menonton film tersebut, opini publik telah terbentuk melalui reaksi keras dari kalangan politik dan militer. Kepala Staf IDF, Eyal Zamir, bahkan memerintahkan penyelidikan untuk mengungkap identitas 24 tentara dan perwira intelijen yang diwawancarai dalam film tersebut dengan wajah tersembunyi.
Langkah itu dinilai sebagai upaya pembungkaman dan ‘perburuan penyihir’ terhadap mereka yang berani bersuara. Di sisi lain, pemerintah di bawah Benjamin Netanyahu dianggap memanfaatkan kontroversi ini untuk mengalihkan isu kegagalan keamanan pada tragedi 7 Oktober menjadi kompetisi patriotisme palsu menjelang pemilu.
Antara Hasbara dan Realitas di Lapangan
Perdebatan domestik di Israel saat ini lebih terfokus pada masalah hasbara (diplomasi publik) dan potensi kerusakan citra internasional Israel. Padahal, kerusakan citra terbesar justru datang dari pernyataan liar para menteri kabinet dan persekusi terhadap pembuat film, termasuk Yuval Abraham, salah satu sutradara NAZA.
Investigasi yang diterbitkan oleh media seperti Haaretz sebelumnya menyajikan temuan keras mengenai dampak perang, termasuk cedera moral yang dialami oleh para tentara yang terlibat. Film NAZA memicu pertanyaan mengenai standar profesionalisme karena dianggap mencampuradukkan jurnalisme dengan aktivisme politik serta penggunaan istilah NAZA yang secara fonetik mirip dengan penggabungan kata Nazis dan Gaza.
Dugaan Kejahatan Perang yang Sistematis
Terlepas dari perdebatan mengenai film tersebut, fakta di lapangan menunjukkan pola yang mengkhawatirkan selama operasi militer di Gaza:
- Aturan Keterlibatan yang Longgar: Banyak warga Palestina ditembak hanya karena melewati garis imajiner yang tidak mereka ketahui.
- Otorisasi Kerusakan Kolateral yang Luas: Serangan sering kali tetap dijalankan meskipun ada risiko jatuhnya korban sipil dalam jumlah besar.
- Penghancuran Infrastruktur Sistematis: Penghancuran rumah dan infrastruktur sipil terus berlanjut dengan alasan mencegah pembangunan kembali permukiman Palestina di dekat kota-kota Israel.
Beberapa perwira militer dalam wawancara anonim mengonfirmasi bahwa pada bulan-bulan pertama perang, terjadi tindakan brutal yang merupakan inisiatif dari bawah maupun arahan dari atas. Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa Israel melakukan kejahatan perang di Gaza, baik melalui tindakan individu tentara maupun operasi unit yang merupakan bagian dari sistem yang lebih luas.
Refleksi dan Masa Depan
Meskipun tuduhan genosida masih menjadi perdebatan di kalangan ahli, bukti-bukti mengenai pelanggaran hukum perang sudah cukup untuk menuntut refleksi diri dari bangsa Israel. Alih-alih melakukan persekusi internal terhadap pembuat film, Israel seharusnya melihat langsung pada realitas yang terjadi guna mencegah terulangnya kesalahan dan kesalahan moral di masa depan.
Kehebohan seputar film NAZA mungkin membantu Netanyahu menggalang basis pemilihnya, tetapi tidak akan mengubah fakta-fakta yang telah terjadi di medan perang Gaza. (Haaretz/I-2)
