
DI balik sejarah kelautan abad ke-19, lahir sebuah bentuk kesenian unik namun kontroversial bernama scrimshaw. Seni mengukir dan mengukir relief pada tulang serta gading paus ini pertama kali dipelopori oleh para pelaut di atas kapal pemburu paus selama berbulan-bulan di lautan lepas. Kini, warisan budaya bahari tersebut berada di ambang kepunahan.
Scrimshaw awalnya diciptakan para pelaut untuk membunuh rasa bosan selama berlayar dalam ekspedisi perburuan paus yang panjang. Dengan memanfaatkan alat seadanya seperti pisau lipat atau jarum, mereka mengukir gambar pemandangan laut, kapal, hingga sketsa wajah kekasih pada gigi atau tulang paus pembunuh (sperm whale). Ukiran tersebut kemudian dihitamkan menggunakan jelaga atau tinta.
Hasil karya ini menjadi salah satu dari sedikit bentuk seni asli buatan rakyat Amerika Serikat yang lahir dari tradisi maritim. Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kesadaran akan perlindungan satwa liar, seni ini menghadapi dilema etis yang besar.
Dilema Etika dan Perlindungan Satwa
Popularitas scrimshaw mulai meredup tajam seiring diberlakukannya larangan internasional terhadap perburuan paus komersial dan perdagangan gading. Undang-undang perlindungan spesies terancam punah memperketat kepemilikan serta penjualan material berbasis organ mamalia laut tersebut.
Langkah hukum ini diambil untuk menghentikan eksploitasi paus dan gajah. Akibatnya, para pengukir scrimshaw modern tidak lagi dapat menggunakan bahan tradisional berupa gigi atau tulang paus segar secara bebas tanpa sertifikat legalitas bahan antik yang sangat ketat.
Para perajin yang tersisa kini terpaksa beralih ke bahan alternatif yang legal, seperti fosil gading gajah purba (mammoth) yang ditemukan di lapisan es Siberia, atau bahan buatan seperti resin dan tulang sapi. Kendati demikian, pasokan bahan alternatif yang langka serta minimnya regenerasi perajin muda membuat seni ini kian terdesak.
Menjaga Warisan Tanpa Merusak Alam
Bagi para kolektor dan museum bahari, scrimshaw otentik dari abad ke-19 tetap dianggap sebagai artefak sejarah bernilai tinggi yang mencatat ketangguhan sekaligus sisi kelam industri perburuan paus di masa lalu.
Museum-museum sejarah kelautan kini berfokus pada upaya konservasi koleksi yang sudah ada sebagai media edukasi sejarah. Pendekatan ini dilakukan agar masyarakat modern tetap dapat mengapresiasi keindahan teknik artistik para pelaut tempo dulu, tanpa harus mendukung praktik perburuan satwa yang dilindungi.
Kini, scrimshaw berada di persimpangan jalan antara mempertahankan identitas budaya sejarah maritim dan tuntutan etika perlindungan lingkungan global, menjadikannya salah satu bentuk seni paling langka yang perlahan menghilang dari peradaban. (BBC/Z-2)
