Karhutla Sumsel Meningkat, Hotspot High Confidence Capai 184 Titik
Ilustrasi(Antara)

KEMENTERIAN Kehutanan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan menyusul peningkatan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence menjadi 184 titik. Secara nasional, jumlah hotspot turun tipis dari 479 menjadi 475 titik.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan pengendalian karhutla terus dilakukan secara terpadu dengan memperkuat patroli hingga operasi pemadaman di wilayah yang masih terdapat titik panas.

“Sumatera Selatan saat ini mencatat hotspot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas sehingga penguatan patroli, groundcheck, pemadaman, pembasahan, serta pendinginan terus dilakukan,” kata Ristianto, Jumat (18/9).

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 hingga Kamis (17/9) pukul 21.05 WIB, hotspot high confidence di Sumatera Selatan meningkat dari 123 menjadi 184 titik.

Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat 61 titik, turun dari 102 titik. Kalimantan Barat tercatat 30 titik, naik dari 21 titik, sedangkan Jambi meningkat dari 12 menjadi 15 titik.

Kalimantan Selatan mencatat lima titik, turun dari 11 titik. Adapun Riau menjadi satu-satunya provinsi prioritas yang tidak mencatat hotspot high confidence pada pemantauan terakhir, setelah sebelumnya terdapat 11 titik.

“Perkembangan positif terlihat di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan terutama Riau yang nihil hotspot high confidence pada pemantauan terakhir,” ujar Ristianto.

Sejalan dengan penguatan pengendalian, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau langsung penanganan karhutla sekaligus kondisi habitat gajah di Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Sumatera Selatan, Kamis (17/9).

Kawasan tersebut merupakan salah satu kantong penting Gajah Sumatra. Di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 terdapat 29 gajah binaan yang berdasarkan hasil pemantauan seluruhnya masih dalam kondisi baik dan belum mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.

Ristianto menegaskan hotspot yang terdeteksi satelit tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Indikator tersebut merupakan anomali suhu permukaan yang perlu diverifikasi dengan kondisi aktual di lapangan.

“Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta berarti satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot. Karena itu, seluruh indikasi tetap diverifikasi melalui pengecekan langsung dan kondisi aktual di lapangan,” jelasnya.

Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, pembasahan, serta pendinginan.

Pemerintah juga menyiagakan 53 unit armada udara, terdiri atas 34 armada untuk operasi water bombing dan 19 armada untuk patroli udara serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi udara diperkuat tiga helikopter CH-47 Chinook dari Jepang yang dipersiapkan membantu operasi water bombing.

Menurut Ristianto, pengerahan operasi udara disesuaikan dengan kondisi api dan hasil verifikasi di lapangan, kondisi meteorologis, serta aspek keselamatan penerbangan.

“Pengerahan operasi udara menyesuaikan kondisi api di lapangan, hasil verifikasi hotspot, kondisi meteorologis, dan aspek keselamatan penerbangan,” katanya.

Berdasarkan prakiraan BMKG periode 18-24 September 2026, pengaruh El Nino kategori sangat kuat bersama musim kemarau masih menyebabkan kondisi atmosfer relatif kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi tersebut meningkatkan potensi karhutla dan meluasnya kabut asap.

Meski demikian, peluang hujan lokal masih tersedia pada 18-20 September di sejumlah wilayah, termasuk Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Dampak asap masih terasa di sejumlah wilayah. Di Sumatera Selatan, jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pada pagi 17 September sempat turun hingga sekitar 700 meter. Kondisi tersebut menyebabkan empat penerbangan yang akan mendarat melakukan holding dan mengalami keterlambatan.

Di Kalimantan Barat, kondisi udara kabur dengan jarak pandang sekitar satu kilometer terpantau pada sejumlah periode pengamatan di kawasan Pelabuhan Utama Dwikora Pontianak. Sementara itu, pemantauan di Pekanbaru menunjukkan konsentrasi PM2,5 berada pada kategori sangat tidak sehat dan kabut asap masih dirasakan di Jambi.

Pengendalian karhutla juga dilakukan untuk mengurangi dampak terhadap satwa liar. Pada 17 September, BKSDA Kalimantan Barat bersama masyarakat dan mitra konservasi menyelamatkan tiga orangutan di Kayong Utara.

“Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu, tidak hanya dengan memadamkan api tetapi juga mengurangi dampaknya terhadap masyarakat, menjaga kawasan hutan, melindungi satwa liar, serta memastikan keselamatan petugas dan masyarakat di wilayah terdampak,” pungkas Ristianto. (Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *