
AKTIVITAS baru terdeteksi di situs nuklir bawah tanah Iran yang sangat dalam, sehingga memicu peringatan keras dari Donald Trump. Laporan terbaru dari Institute for Science and International Security yang dirilis Kamis (17/9/2026) mengungkapkan pergerakan signifikan di Gunung Pickaxe, lokasi yang berdekatan dengan kompleks nuklir Natanz.
Berdasarkan citra satelit tertanggal 11 September, terlihat barikade tanah masih terpasang di jalan-jalan menuju portal terowongan barat Gunung Pickaxe. Institut tersebut menilai bahwa pembatasan akses yang terus berlanjut memperkuat dugaan bahwa fasilitas tersebut tidak digunakan untuk operasi normal, melainkan menyimpan peralatan atau material berharga di dalamnya.
Penguatan Benteng Bawah Tanah
Laporan tersebut juga mengidentifikasi ada penambahan lapisan tanah di atas salah satu portal terowongan barat dan klaster pintu masuk yang pertama kali dibangun pada 2007. Penambahan tanah ini diyakini bertujuan memperkuat perlindungan fasilitas terhadap kemungkinan pengeboman udara.
Temuan itu muncul hanya seminggu setelah Trump mengeluarkan peringatan terbaru terkait Gunung Pickaxe. “Kami memperhatikan ada sedikit aktivitas di Pickaxe,” ujar Trump kepada wartawan pekan lalu. “Saya menyarankan Iran untuk tidak bertindak gegabah karena kami harus memukul mereka dengan sangat keras.”
Trump berulang kali mengangkat kemungkinan menyerang situs tersebut. Dalam wawancara sebelumnya, ia menegaskan bahwa Washington memantau Pickaxe dengan cermat dan siap mengambil tindakan militer jika diplomasi gagal. Fasilitas di Gunung Pickaxe sendiri diperkirakan terkubur setidaknya 100 meter di bawah tanah, menjadikannya salah satu situs paling terlindungi di dunia.
Rekonstruksi di Taleghan 2 dan Ketegangan PBB
Selain di Gunung Pickaxe, aktivitas mencurigakan juga terlihat di kompleks militer Parchin. Citra satelit dari Vantor Technologies menunjukkan Iran tengah mempercepat rekonstruksi fasilitas Taleghan 2. Terlihat penggunaan terpal untuk menutupi pekerjaan dari pengamatan udara, serta aktivitas alat berat seperti buldoser dan derek di lokasi tersebut.
Di sisi lain, ketegangan diplomatik meningkat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Rusia dan Tiongkok pada Kamis (17/9) memveto resolusi Dewan Keamanan yang diusulkan Amerika Serikat untuk memperpanjang mandat Panel Pakar yang mendukung Komite Sanksi Iran 1737 hingga September 2027.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menegaskan bahwa Washington menganggap sanksi snapback dipulihkan secara hukum. “Rezim Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegas Waltz, seraya menambahkan bahwa AS mengharapkan semua pihak untuk menegakkan sanksi tersebut sepenuhnya.
Di tengah ketegangan ini, misi pencari fakta independen PBB menyatakan ada dugaan kejahatan perang terkait serangan AS di situs sipil Iran pada Februari lalu. Di saat yang sama, misi tersebut menyimpulkan bahwa otoritas Iran telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan selama tindakan keras terhadap protes anti-pemerintah.
Hingga berita ini diturunkan, misi Iran di PBB belum memberikan komentar resmi terkait temuan aktivitas di Gunung Pickaxe maupun perkembangan di Dewan Keamanan PBB. (Fox/I-2)
