
INFORMASI mengenai vaksin masih kerap menjadi bahan perbincangan di media sosial. Salah satunya unggahan TikTok yang menyebut pemberian vaksin Human Papilloma Virus atau HPV kepada anak laki-laki bertujuan membuat mereka menjadi impoten. Klaim tersebut telah beredar di media sosial dan menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan vaksin.
Namun, informasi itu dinyatakan tidak benar. Pemprov Jawa Tengah melalui kanal Padhang Nasional pada 16 September 2026 memasukkan klaim tersebut sebagai hoaks. Klarifikasi ini diberikan untuk meluruskan narasi yang mengaitkan vaksin HPV dengan impotensi pada anak laki-laki.
Klaim Vaksin HPV Disebut Bikin Impoten
Dalam unggahan yang beredar, anjuran vaksin HPV untuk anak laki-laki disebut memiliki tujuan tersembunyi, yaitu membuat anak laki-laki menjadi impoten. Narasi tersebut kemudian menyebar melalui media sosial TikTok dan berpotensi menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua.
Berdasarkan klarifikasi dalam artikelnya Padhang Nasional, klaim tersebut tidak benar. Vaksin HPV justru diberikan dengan tujuan melindungi tubuh dari infeksi virus HPV yang dapat berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan.
Bukan untuk Menyebabkan Kemandulan
Dilansir dari Padhang Nasional menjelaskan bahwa pada laki-laki, vaksinasi HPV direkomendasikan untuk membantu mencegah kutil kelamin dan kanker anus. Dengan demikian, pemberian vaksin tersebut bukan ditujukan untuk menyebabkan gangguan kesuburan atau impotensi.
Sebaliknya, vaksin HPV disebut dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV yang berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi dan kesuburan, baik pada laki-laki maupun perempuan.
Keterangan tersebut sekaligus membantah narasi yang menghubungkan vaksin HPV dengan tujuan membuat anak laki-laki mengalami impotensi.
Vaksin HPV Disebut Aman
Selain meluruskan tujuan vaksinasi juga dijelaskan mengenai keamanannya. Vaksin HPV disebut telah terjamin aman dan umumnya tidak menimbulkan reaksi serius setelah pemberian imunisasi.
Karena informasi mengenai vaksin dapat dengan mudah menyebar melalui media sosial, masyarakat perlu berhati-hati sebelum mempercayai sebuah klaim. Narasi yang tidak benar, terutama terkait kesehatan anak, dapat menimbulkan kekhawatiran yang tidak berdasar.
Klarifikasi mengenai isu vaksin HPV ini menjadi pengingat agar masyarakat tidak langsung mempercayai informasi kesehatan yang beredar di media sosial tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu. (Netty Fatmawati Pane/E-4)
