
BANK sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), resmi menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2023 pada Rabu waktu setempat atau Kamis (17/9) pagi WIB. Langkah ini diambil sebagai respons tegas terhadap tingkat inflasi yang dinilai telah berada di level terlalu tinggi dalam durasi yang terlalu lama.
Kepala The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah serius yang tidak bisa lagi ditunda. Keputusan tersebut sekaligus menjadi sinyal independensi bank sentral, mengingat The Fed memilih untuk mengabaikan tuntutan Presiden Donald Trump yang sebelumnya mendesak adanya penurunan suku bunga.
Keputusan Bulat FOMC
Dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), para pembuat kebijakan secara bulat sepakat untuk mengerek suku bunga sebesar 25 basis poin (bps). Dengan kenaikan ini, suku bunga acuan AS kini berada di kisaran 3,75% hingga 4,00%.
“Faktanya jelas bahwa inflasi terlalu tinggi dan kondisinya sudah berlangsung terlalu lama,” ujar Warsh sebagaimana dilansir dari AFP.
Ia menambahkan bahwa meskipun ini adalah keputusan yang berat, namun sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.
| Indikator | Detail Informasi |
|---|---|
| Besaran Kenaikan | 25 Basis Poin (bps) |
| Rentang Suku Bunga Baru | 3,75% – 4,00% |
| Status Keputusan | Bulat (Unanimous) |
| Kenaikan Terakhir Sebelum Ini | Tahun 2023 |
Pemicu Inflasi dan Proyeksi ke Depan
Tekanan inflasi di Amerika Serikat dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik dan domestik. Rumah tangga dan dunia usaha terpukul oleh lonjakan harga akibat konflik AS dengan Iran, kebijakan tarif yang diterapkan era Trump, hingga pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang memengaruhi struktur biaya ekonomi.
Sebelumnya, The Fed telah mempertahankan suku bunga tetap sejak Januari untuk memantau dampak guncangan harga energi dan transmisi kebijakan tarif. Namun, sejak Juli, urgensi untuk memperketat kebijakan moneter semakin menguat seiring dengan harga energi yang tetap tinggi akibat perang yang berlanjut.
Berdasarkan Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP), kenaikan kali ini kemungkinan besar bukan yang terakhir. Mayoritas pembuat kebijakan mengindikasikan bahwa setidaknya diperlukan satu kali kenaikan lagi sebelum penutupan tahun 2026.
Ketahanan Pasar Tenaga Kerja
Kepala ekonom KPMG, Diane Swonk, menilai langkah The Fed sudah tepat mengingat kondisi fundamental ekonomi AS yang masih solid. Menurutnya, inflasi yang persisten tidak memberikan pilihan lain bagi bank sentral.
“Tekanan harga masih terlalu tinggi untuk diabaikan, sementara kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja saat ini cukup kuat untuk menyerap dampak dari kebijakan moneter yang lebih ketat,” pungkas Swonk. (Z-1)
