
NILAI tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan sore ini, Kamis (17/9). Rupiah terkoreksi sebesar 57 poin dan parkir di level Rp17.753 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.696 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan untuk perdagangan Jumat (18/9), rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di rentang Rp17.750 hingga Rp17.790 per dolar AS.
Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed
Pelemahan rupiah dipicu oleh langkah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) ke kisaran 3,75% hingga 4,0% pada Rabu (16/9) waktu setempat. Ibrahim mencatat bahwa ini merupakan kenaikan suku bunga pertama yang dilakukan bank sentral AS sejak Juli 2023.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi persnya menegaskan kekhawatiran mendalam terhadap inflasi. Warsh menyoroti banyaknya kategori produk dan layanan yang mencatatkan kenaikan harga tahunan di atas 3% dalam periode 6 hingga 12 bulan terakhir. Hal ini memberikan sinyal kuat bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin terjadi dalam beberapa bulan mendatang.
| Indikator | Nilai/Keterangan |
|---|---|
| Penutupan Hari Ini | Rp17.753 per dolar AS |
| Perubahan | Melemah 57 Poin |
| Suku Bunga The Fed | 3,75% – 4,0% |
| Proyeksi Besok | Rp17.750 – Rp17.790 |
Sinyal Status Quo Bank Indonesia
Dari sisi domestik, ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk kembali mengerek suku bunga acuan dinilai semakin menyempit. Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan pada 22–23 September 2026, para analis memperkirakan BI akan mempertahankan kebijakan moneter saat ini (status quo).
Ibrahim menjelaskan bahwa langkah agresif BI sebelumnya, yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin, merupakan langkah pre-emptive yang presisi. Manuver ini dinilai melampaui agresivitas The Fed, sehingga BI tidak perlu terburu-buru melakukan penyesuaian tambahan.
“Fundamental makroekonomi yang perlahan mengeras turut menjadi tameng bagi BI. Kondisi nilai tukar rupiah yang berangsur stabil di kisaran 17.300-17.800, derasnya aliran modal asing (capital inflow), serta disiplin fiskal memperkuat ruang bagi bank sentral untuk memantau situasi tanpa perlu menarik tuas rem tambahan,” pungkas Ibrahim. (Ant/I-1)
