
AKADEMISI sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa aktivitas gempa swarm yang terjadi di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tidak dapat diartikan sebagai pertanda pasti akan datangnya gempa bumi berkekuatan besar.
Menurut Daryono, karakteristik gempa swarm sering kali disalahpahami oleh masyarakat sebagai awal dari bencana yang lebih besar. Padahal, secara ilmiah, rangkaian gempa ini memiliki pola yang berbeda dengan gempa tektonik pada umumnya.
“Swarm tidak selalu berarti gempa akan terus membesar. Sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap,” ujar Daryono di Bandung, Kamis (17/9).
Memahami Fenomena Earthquake Swarm
Daryono menjelaskan bahwa earthquake swarm adalah rangkaian gempa yang terjadi berulang dalam suatu kawasan dan periode tertentu tanpa adanya satu gempa utama (mainshock) yang secara jelas mendominasi rangkaian tersebut. Fenomena ini menunjukkan adanya aktivitas deformasi dan pelepasan tegangan di kerak bumi.
Penyebab munculnya swarm bisa beragam, mulai dari pergeseran sesar lokal hingga aktivitas vulkanik atau hidrotermal di bawah permukaan. “Pola swarm harus dibaca berdasarkan data seismologi secara terus-menerus, bukan berdasarkan jumlah gempa semata,” tambahnya.
| Waktu Kejadian | Magnitudo | Lokasi & Kedalaman |
|---|---|---|
| Rabu (16/9) – Kamis (17/9) | Variatif (Puluhan kali) | Kawasan Pangalengan dan sekitarnya |
| Kamis (17/9) 04.59 WIB | M 2,6 | 23 km Selatan Kab. Bandung (Kedalaman 3 km) |
Kedekatan dengan Sesar Garsela
Wilayah Pangalengan secara geografis berada di Jawa Barat bagian selatan dengan kondisi deformasi kerak bumi yang kompleks. Wilayah ini berdekatan dengan sistem Sesar Garsela (Garut Selatan), salah satu struktur sesar aktif yang paling produktif menghasilkan aktivitas seismik di Jawa Barat.
Daryono menyebutkan bahwa gempa dengan sumber dangkal, seperti yang terjadi pada Kamis pagi dengan kedalaman hanya tiga kilometer, dapat menghasilkan guncangan yang terasa cukup kuat meskipun magnitudonya kecil. Kondisi geologi setempat juga sangat memengaruhi tingkat guncangan yang dirasakan oleh masyarakat.
Imbauan Kesiapsiagaan
Masyarakat diimbau untuk tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Daryono menekankan pentingnya langkah-langkah mitigasi mandiri, seperti:
- Memastikan kondisi struktur bangunan tetap kokoh.
- Mengamankan perabot rumah tangga yang mudah jatuh.
- Memahami prosedur keselamatan drop, cover, and hold on (merunduk, berlindung, dan berpegangan) saat guncangan terjadi.
- Mewaspadai potensi bahaya sekunder seperti tanah longsor, terutama bagi warga di area perbukitan.
“Masyarakat tidak perlu mengaitkan setiap peningkatan aktivitas gempa swarm dengan kemungkinan terjadinya gempa besar. Yang terpenting adalah tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari BMKG,” pungkasnya. (Ant/I-1)
