Mohon Hujan di Tengah Kemarau dan Karhutla, Kesultanan Kutai Gelar Salat Istisqa
Kutai Kartanegara gelar Salat Istisqa(Doc Prokom Kukar)

DI tengah kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menggelar Salat Istisqa di halaman Kedaton, Tenggarong, Rabu (16/9/2026).

Salat untuk memohon turunnya hujan itu digelar menjelang pelaksanaan Pesta Adat Erau “Raja Menjamu Rakyatnya” 2026. Selain menjadi bagian dari persiapan spiritual menjelang Erau, doa bersama tersebut menjadi ikhtiar di tengah kondisi cuaca kering yang meningkatkan risiko kebakaran lahan.

Kondisi kemarau di Kukar sebelumnya turut berdampak pada kualitas udara. Di Kelurahan Wonotirto, Kecamatan Samboja, yang masuk wilayah delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN), indeks standar pencemar udara (ISPU) tercatat mencapai 162 pada 31 Agustus 2026. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat dan dikaitkan dengan kabut asap akibat karhutla.

Karhutla juga sempat melanda lahan gambut dan semak belukar di Wonotirto. Tim gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan untuk mencegah api kembali muncul.

Di tengah kondisi tersebut, jajaran Kesultanan bersama pemerintah daerah, tokoh agama dan masyarakat berkumpul di halaman Kedaton untuk melaksanakan Salat Istisqa. Setelah salat, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan Haul Jamak untuk mendoakan para leluhur serta Sultan Kutai Kartanegara terdahulu.

Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri mengatakan Salat Istisqa merupakan ikhtiar bersama untuk memohon turunnya hujan.

“Hari ini kita melaksanakan Salat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar kita untuk meminta hujan,” kata Aulia.

Usai pelaksanaan Salat Istisqa, hujan sempat turun ringan di kawasan Tenggarong. Namun, hujan belum merata dan intensitasnya masih terbatas.

Aulia mengatakan sebagian wilayah Kukar telah mendapatkan hujan, sementara sejumlah daerah lainnya masih menghadapi kemarau dan karhutla. Karena itu, ia berharap hujan segera turun dengan intensitas yang cukup untuk membantu mengurangi dampak kekeringan dan kebakaran.

“Semoga hujan segera turun dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta membantu mengatasi kondisi yang kita hadapi saat ini,” ujarnya.

Selain memohon hujan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mendoakan keselamatan seluruh masyarakat dan kelancaran pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 20–27 September.

Pemerintah Kabupaten Kukar mengajak masyarakat tetap menjaga ketertiban dan kewaspadaan selama kondisi kemarau, termasuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan.

Salat Istisqa di halaman Kedaton ini menjadi salah satu rangkaian persiapan menjelang Erau. Namun di tengah ancaman karhutla dan kualitas udara yang sempat memburuk di sejumlah wilayah, doa untuk turunnya hujan juga menjadi harapan masyarakat agar kondisi lingkungan segera membaik.

“Mudah-mudahan semua segera membaik. Hujan segera turun dan Erau berjalan sakral dan lancar,” tutupnya. (YI)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *