89 Persen Perusahaan Indonesia belum Siap Hadapi Serangan Siber
Bahaya serangan siber.(Dok. Magnific)

SEBANYAK 89% perusahaan di Indonesia dinilai belum siap menghadapi serangan siber. Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah meningkatnya ancaman siber di kawasan ASEAN serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) oleh pelaku serangan.

Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia Adithya Nugraputra mengatakan, rendahnya kesiapan perusahaan menghadapi serangan siber dipengaruhi berbagai faktor. Perkembangan AI membuat tantangan tersebut semakin kompleks karena teknologi itu juga dimanfaatkan pelaku untuk mempercepat serangan.

“Memang banyak faktor yang menyebabkan mereka belum siap. Tapi di sini memang poinnya dengan adopsi AI yang sangat cepat. Itu yang menyebabkan mereka butuh bantuan,” kata Adithya dalam Exclusive Media Briefing Ensign Cyber Threat Landscape Report 2026.

Dampak penggunaan AI dalam serangan terlihat dalam pengujian Ensign terhadap 10 model AI di lingkungan jaringan universitas yang dikendalikan. Seluruh model yang diuji berhasil memperoleh akses awal ke jaringan, sedangkan 90 persen di antaranya berhasil mencapai data sensitif.

Menurut Adithya, temuan itu menjadi tantangan karena pemanfaatan AI oleh pelaku serangan berkembang cepat, sementara perusahaan masih beradaptasi dalam melindungi sistem dan data mereka.

“Karena adopsi AI yang dipakai attacker itu sangat cepat, dan organisasi belum tahu harus bagaimana mempertahankan data atau organisasi mereka,” ujarnya.

Country Head Indonesia Ensign InfoSecurity Suryo Pratomo mengatakan, tantangan keamanan siber juga meningkat seiring semakin luasnya ekosistem digital yang digunakan perusahaan. Semakin banyak sistem dan layanan terhubung, semakin luas pula area yang berpotensi menjadi titik masuk serangan.

“Sekarang dengan adanya AI, tingkat serangan bervariasi semakin cepat, tingkat melakukan serangan juga menjadi bervariasi. Dan dengan kita sekarang makin menuju arah digital ecosystem, semakin banyak attack surface di industri atau di setiap perusahaan yang menjadi rentan,” kata Suryo.

Kata Sandi Lemah Jadi Celah

Di tengah berkembangnya metode serangan, celah keamanan dasar masih menjadi persoalan. Adithya menyebut penggunaan kata sandi yang mudah ditebak sebagai salah satu jalan bagi penyerang untuk mendapatkan akses ke sistem.

“Password yang memang mudah ditebak. Dan itu mereka tinggal cari username-nya dan dia sudah bisa login,” katanya.

Data akses yang berhasil diperoleh bahkan dapat diperjualbelikan dalam ekosistem kejahatan siber. Pelaku yang mendapatkan akses awal tidak selalu menjadi pihak yang menjalankan seluruh tahapan serangan.

“Jadi yang jualan password namanya initial access broker. Kita sebutnya broker. Broker itu cuma jualan password doang. Nanti yang di dark web ada yang beli, terus dia bayar lagi ke orang lain yang coba bikin malware-nya atau bikin senjatanya,” ujar Adithya.

Selain kata sandi, sistem yang terhubung langsung ke internet juga dapat menjadi pintu masuk apabila memiliki kerentanan yang belum diperbaiki. Website, firewall, hingga VPN menjadi sejumlah sistem yang perlu diperbarui secara berkala.

“Kerentanan di software yang nggak di-update, itu juga jadi banyak entry point-nya dari attacker,” katanya.

Faktor Manusia Tetap Krusial

Meski teknologi serangan terus berkembang, faktor manusia tetap menjadi bagian penting dalam pertahanan siber perusahaan.

Suryo mengatakan pengguna perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama dalam menghadapi pesan, tautan, atau bentuk komunikasi digital yang tampak meyakinkan namun berpotensi menjadi upaya serangan.

“Kalau kita ngomong di weakest link itu sebetulnya yang paling lemah ada di kita, ada di people,” kata Suryo. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *