
PEMERINTAH Kota Pontianak memutuskan untuk tetap memberlakukan sistem pembelajaran secara daring hingga sepekan ke depan. Kebijakan ini diambil menyusul kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih pekat dan membahayakan kesehatan siswa.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyatakan bahwa aktivitas belajar di lingkungan sekolah untuk tingkat TK, SD, dan SMP masih diliburkan sementara waktu. “Belajar untuk saat ini secara daring sampai cuaca membaik, karena kabut asap sampai saat ini masih pekat,” ujar Edi dilansir dari Antara, Minggu (30/8).
Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi terhadap lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Berdasarkan data pemerintah setempat, kasus ISPA di Pontianak saat ini mencapai 300 kejadian per hari. Pemkot telah menetapkan status darurat asap untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk kualitas udara.
Meski sekolah dialihkan ke rumah, Edi memastikan pelayanan publik di lingkungan Pemkot Pontianak tetap berjalan normal. Namun, bagi aparatur sipil negara (ASN) yang sedang sakit, diperbolehkan untuk bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH).
Kebijakan serupa juga berlaku untuk tingkat SMA/SMK/SLB di seluruh Kalimantan Barat. Berdasarkan surat Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar tertanggal 29 Agustus 2026, pembelajaran daring diperpanjang sehingga total proses belajar dari rumah selama Agustus 2026 telah memasuki pekan ketiga.
Di sisi lain, sejumlah tenaga pendidik mengeluhkan efektivitas pembelajaran jarak jauh. Diana Cristy Nainggolan, seorang guru SD di Pontianak, menyebut aktivitas belajar menjadi sangat terbatas. Ia berharap penanganan karhutla diperkuat dan hujan segera turun agar aktivitas kembali normal.
Wali Kota Edi Rusdi Kamtono kembali mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa harus keluar rumah, warga diwajibkan menggunakan masker guna meminimalisir paparan asap yang berbahaya bagi paru-paru. (Z-10)
