Waspada Plak Pembuluh Darah, Dokter Spesialis Jantung Ingatkan Bahaya Rokok dan Hipertensi
Ilustrasi(magnific)

DOKTER Spesialis Jantung dari IHC RS Pusat Pertamina (RSPP), Maya Munigar Apandi, memperingatkan masyarakat mengenai bahaya pembentukan plak atau kerak di pembuluh darah. Kondisi ini dapat memicu penyumbatan serius yang berujung pada penyakit jantung koroner (PJK).

Menurut Maya, penyakit jantung koroner terjadi ketika arteri koroner, yang bertugas memasok oksigen dan nutrisi ke otot jantung, mengalami penyempitan atau penyumbatan. Salah satu pemicu utamanya adalah gaya hidup yang tidak sehat, terutama kebiasaan merokok.

Bahaya Rokok Konvensional dan Elektrik

Maya menekankan bahwa merokok adalah faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Ia menyarankan penghentian penggunaan rokok dalam bentuk apa pun, baik konvensional maupun elektrik (vape), karena keduanya memiliki risiko yang serupa bagi kesehatan jantung.

“Kalau rokok konvensional kan mostly permasalahan di sekitar paru saja, rokok yang elektrik itu permasalahan bisa ke organ lain. Jadi kami tetap menyarankan untuk setop merokok dengan metode apapun,” ujar Maya dalam diskusi kesehatan di RSPP Jakarta, dikutip Jumat (28/8).

Kolaborasi Risiko: Hipertensi dan Gaya Hidup

Di Indonesia, hipertensi menempati urutan pertama sebagai faktor risiko yang paling sering berkaitan dengan jantung koroner, disusul oleh kebiasaan merokok. Jika keduanya terjadi bersamaan, risiko kerusakan pembuluh darah akan meningkat drastis.

Hipertensi menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku dan kehilangan fleksibilitasnya. Di sisi lain, zat dalam rokok membuat dinding pembuluh darah lebih sensitif dan rentan terhadap pembentukan plak. Kondisi ini diperparah oleh pola makan yang tinggi lemak dan gula.








Faktor Risiko Dampak pada Pembuluh Darah
Hipertensi Pembuluh darah menjadi kaku dan tidak fleksibel.
Merokok Dinding pembuluh darah sensitif dan rentan plak.
Pola Makan Buruk Akumulasi lemak dan gula mempercepat pembentukan kerak.
Kurang Tidur Meningkatkan risiko hipertensi dalam jangka panjang (5-10 tahun).

Pola Makan dan Istirahat

Maya mengingatkan pentingnya mengikuti panduan gizi seimbang dari Kemenkes. Konsumsi makanan harus sesuai porsi, yakni tinggi serat, protein cukup, rendah lemak, serta membatasi karbohidrat, gula, dan produk olahan susu.

Selain nutrisi, durasi istirahat juga menjadi kunci. Kurang tidur secara konsisten dalam jangka waktu 5 hingga 10 tahun dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, yang biasanya diawali dengan munculnya hipertensi.

Manajemen Stres dan Olahraga Teratur

Pengelolaan stres juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kesehatan jantung. Maya menilai setiap orang perlu memiliki mekanisme healing sendiri, baik itu melalui hobi maupun waktu istirahat di rumah untuk mengisi energi.

Terakhir, ia mengimbau masyarakat untuk berolahraga secara konsisten. Bagi individu non-atlet, latihan sebaiknya dimulai dari intensitas rendah dan ditingkatkan secara bertahap.

“Konsistensi lebih penting daripada olahraga yang hanya dilakukan sesekali. Mengontrol faktor risiko seperti darah tinggi, kencing manis, dan kolesterol itu wajib dilakukan secara optimal,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *