Cegah Kebutaan, Penyandang Diabetes Diimbau Rutin Periksa Retina Mata
Ilustrasi pemeriksaan kesehatan mata.(Dok. Magnific)

DOKTER mengingatkan para penyandang diabetes untuk menjalani pemeriksaan retina secara rutin guna mencegah retinopati diabetik (RD). Komplikasi ini menyerang pembuluh darah retina dan sering kali berkembang tanpa gejala hingga akhirnya mengancam penglihatan secara permanen.

Perwakilan Universitas Gadjah Mada (UGM), dokter spesialis mata, Prof. Muhammad Bayu Sasongko, menjelaskan bahwa retinopati diabetik merupakan salah satu komplikasi diabetes yang paling umum terjadi. Namun, tingkat kesadaran masyarakat terhadap risiko ini masih rendah dibandingkan komplikasi pada jantung atau ginjal.

“Retinopati diabetik justru salah satu komplikasi yang paling umum terjadi, tetapi banyak pasien menganggap penurunan penglihatan sebagai hal yang wajar karena usia atau diabetes, sehingga datang berobat ketika kondisinya sudah berat,” ujar Bayu di Jakarta, Senin (20/7).

Penyebab dan Faktor Risiko

Retinopati diabetik dipicu oleh kadar gula darah tinggi yang berlangsung dalam jangka waktu lama, sehingga merusak pembuluh darah kecil pada retina. Kerusakan ini dapat menyebabkan kebocoran atau perdarahan pada retina yang secara bertahap menurunkan kemampuan melihat.

Menurut Bayu, risiko RD akan meningkat signifikan pada penyandang diabetes yang memiliki kondisi berikut:

  • Gula darah yang tidak terkendali.
  • Hipertensi (tekanan darah tinggi).
  • Kadar kolesterol tinggi.
  • Kebiasaan merokok.

Semakin lama seseorang mengidap diabetes, semakin besar pula risiko kerusakan retina yang dihadapi.

Data dan Urgensi Skrining

Berdasarkan analisis data BPJS Kesehatan, tercatat sekitar 5,2 juta penyandang diabetes di Indonesia telah mengalami retinopati diabetik. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,2 juta pasien membutuhkan penanganan medis lebih lanjut, seperti terapi laser, injeksi, hingga prosedur operasi.

Bayu menekankan bahwa pada tahap awal, penyakit ini hampir tidak menimbulkan gejala. Hal inilah yang menyebabkan banyak pasien baru memeriksakan diri setelah penglihatan mulai kabur atau menurun drastis.

Oleh karena itu, ia mengimbau penyandang diabetes untuk melakukan skrining retina secara berkala meski belum merasakan gangguan penglihatan. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui foto fundus atau foto retina menggunakan berbagai alat, termasuk perangkat portabel yang kini sudah tersedia.

Pengendalian Gula Darah

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Prof. Em Yunir, menegaskan bahwa pengendalian gula darah tetap menjadi langkah utama untuk memperlambat kerusakan retina. Namun, langkah ini harus dibarengi dengan pemeriksaan mata rutin.

Em Yunir mengungkapkan fakta memprihatinkan bahwa sekitar 70 persen dari lebih 20 juta penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan belum menyadari kondisi kesehatan mereka. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis setelah muncul komplikasi serius.

Meskipun retinopati diabetik tidak dapat dipulihkan sepenuhnya, deteksi dini memungkinkan perkembangan penyakit diperlambat. Dengan penanganan yang tepat sejak awal, risiko gangguan penglihatan berat hingga kebutaan total dapat ditekan secara maksimal. (Ant/H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *