
TIM peneliti internasional yang dipimpin oleh Poramad Trivalairat berhasil mengidentifikasi spesies baru kadal naga bertanduk gunung di kawasan Tailan barat. Spesies baru ini secara resmi diberi nama ilmiah Acanthosaura syrax, terinspirasi dari Syrax, naga tunggangan Ratu Rhaenyra Targaryen dalam serial televisi House of the Dragon (bagian dari waralaba Game of Thrones).
Pemberian nama tersebut didasari oleh tiga kemiripan antara kadal asli ini dan naga rekaan tersebut, yaitu warna kekuningan, ukuran tubuh yang tergolong sedang, serta jumlah telur yang terhitung sangat banyak untuk ukuran tubuhnya. Dalam temuan tersebut, para peneliti mencatat empat individu betina mampu menghasilkan 6 hingga 16 butir telur. Peneliti juga mengusulkan “Syrax mountain horned dragon” sebagai nama umum dalam bahasa Inggris.
Secara fisik, kadal naga jantan dewasa memiliki bibir dan leher berwarna hijau kekuningan dengan corak bintik hijau muda di atas warna dasar tubuh cokelat tua. Sementara itu, kadal betina cenderung memiliki corak berwarna cokelat muda, cokelat jingga, atau kekuningan, dengan ukuran tubuh yang lebih besar dari jantan. Spesies ini menjadi anggota ke-23 yang teridentifikasi dalam kelompok kadal naga bertanduk gunung.
Para peneliti mengumpulkan delapan ekor kadal dewasa secara langsung menggunakan tangan di kawasan pegunungan Taman Nasional Mae Wong pada April dan Mei 2025. Dari hasil pengukuran terhadap 51 parameter tubuh dan hitungan sisik, spesies ini memiliki sisik jambul leher dan punggung terkecil di antara seluruh spesies Acanthosaura yang dikenal. Ditemukan pula ciri khas berupa enam atau tujuh duri segitiga kecil di leher, sisik berbentuk gergaji di sepanjang punggung, serta pola kerah gelap tanpa bercak hitam di sekitar mata.
Selain analisis morfologi, tim peneliti melakukan pengujian genetika pada dua segmen DNA mitokondria, yaitu ND2 dan COI. Hasil urutan genetik tersebut memperkuat bahwa kedelapan individu yang ditemukan berada dalam satu kelompok terpisah dari spesies kadal naga bertanduk gunung lainnya, khususnya Acanthosaura lepidogaster.
Habitat Acanthosaura syrax teramati berada di hutan pegunungan tinggi pada ketinggian di atas 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Satwa diurnal ini aktif pada siang hari untuk berjemur di atas batu, batang kayu tumbang, maupun semak-semak, dan berpindah ke celah pohon atau bawah batuan saat hari mulai gelap.
Hingga saat ini, keberadaan spesies baru tersebut baru tercatat di dataran tinggi Taman Nasional Mae Wong. Mengingat kontur pegunungan yang terisolasi dapat membatasi pergerakan dan interaksi populasi, para peneliti mendorong perlindungan yang lebih ketat terhadap ekosistem hutan pegunungan di kawasan tersebut. Hasil penelitian mengenai penemuan spesies baru ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ZooKeys. (Earth/Z-2)
