Bangun Resiliensi, Suarakan Aspirasi: ORANGE FEM 2026 Siapkan Mahasiswa Baru Menjadi Agen Perubahan
Mahasiswa baru mengikuti Simulasi Aksi dalam rangkaian ORANGE FEM 2026(Dok IPB University )

RATUSAN mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University mengikuti rangkaian Orange FEM 2026 sebagai gerbang awal memasuki kehidupan akademik di tingkat fakultas. Melalui serangkaian pembekalan yang menggabungkan penguatan karakter, diskusi kebangsaan, simulasi aksi, literasi finansial, hingga pengenalan jejaring alumni, kegiatan ini membekali mahasiswa angkatan 62 agar mampu menghadapi tantangan perkuliahan sekaligus mempersiapkan diri menjadi lulusan yang adaptif, kritis, dan berdaya saing.

Rangkaian kegiatan dibuka melalui Talkshow Build Resilience, Grow Stronger yang menghadirkan Niko Faiz Fahrezi, Mahasiswa Berprestasi Utama IPB University 2025 sekaligus peraih Medali Emas Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Dipandu oleh Ririn Hidayati, sesi tersebut mengajak mahasiswa baru memahami bahwa perjalanan di bangku kuliah tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Niko membagikan pengalamannya ketika menghadapi berbagai penolakan saat mengikuti organisasi, kegagalan dalam kompetisi, hingga fase ketika ia sempat merasa kehilangan arah selama menjalani perkuliahan. Pengalaman tersebut, menurutnya, justru menjadi titik balik yang membentuk ketangguhan diri dan mendorongnya terus berkembang.

“Kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Justru dari kegagalan kita belajar mengenal diri, memperbaiki proses, dan menemukan cara untuk menjadi lebih baik,” ujar Niko di hadapan peserta.

Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan menempuh pendidikan tinggi merupakan privilese yang tidak dimiliki seluruh anak muda Indonesia. Karena itu, mahasiswa perlu memanfaatkan masa kuliah untuk terus belajar, mengembangkan diri, serta menjaga keseimbangan antara akademik, organisasi, dan kesehatan mental agar tidak terjebak dalam budaya toxic productivity.

Setelah membahas pentingnya membangun resiliensi, Orange FEM 2026 mengajak mahasiswa memperluas perspektif melalui Talkshow CERDAS BERAKSI: Understanding the Nation bersama Sadam Permana dan Virdian Aurellio. Dalam sesi tersebut, kedua narasumber mengulas berbagai persoalan yang masih dihadapi Indonesia, mulai dari ketimpangan pendidikan, korupsi, hingga kesenjangan sosial-ekonomi yang menjadi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

Virdian menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran penting sebagai kelompok intelektual yang mampu mengawal perubahan sosial. Sementara itu, Sadam membagikan pengalamannya ketika mengunjungi Desa Batu Apung, Lombok, dan melihat secara langsung anak-anak yang harus bekerja membantu memenuhi kebutuhan keluarga di usia ketika mereka seharusnya menikmati pendidikan.

Menurut Sadam, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan belajar di perguruan tinggi bukan hanya sebuah privilese, tetapi juga amanah untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Perubahan itu seperti compound interest. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan dampak yang jauh lebih besar di masa depan,” kata Sadam.

Kedua narasumber juga memperkenalkan konsep 5% Change Theory sebagai pengingat bahwa perubahan besar sering kali berawal dari sekelompok kecil orang yang memiliki keberanian untuk bergerak dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini.

Semangat tersebut kemudian diwujudkan melalui Simulasi Aksi, salah satu rangkaian yang menjadi pengalaman paling berkesan bagi mahasiswa baru. Berbeda dengan aksi penyampaian pendapat di ruang publik, simulasi ini dirancang sebagai media pembelajaran untuk melatih keberanian menyampaikan aspirasi, membangun solidaritas, serta menumbuhkan kepedulian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Mahasiswa kemudian membentuk barisan human chain sebagai simbol solidaritas sebelum memasuki simulasi aksi. Di bawah arahan orator, perwakilan mahasiswa membacakan tuntutan yang merefleksikan empat isu strategis bangsa, yakni pendidikan, ekonomi, demokrasi, dan hak asasi manusia (HAM). Tuntutan tersebut menyoroti pentingnya pemerataan pendidikan, penguatan ekonomi yang berkeadilan, penguatan demokrasi yang menjamin partisipasi masyarakat, serta perlindungan hak asasi manusia sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif dan berkeadilan. 

Suasana berubah semakin khidmat ketika prosesi tabur bunga dimulai. Diiringi pembacaan puisi dan lagu Mengheningkan Cipta,  mahasiswa menaburkan kelopak bunga sebagai simbol keprihatinan atas berbagai persoalan bangsa sekaligus refleksi bahwa setiap keresahan yang disuarakan memerlukan kepedulian dan tindakan nyata. Melalui prosesi tersebut, peserta diajak memahami bahwa peran mahasiswa tidak berhenti pada menyampaikan kritik, tetapi juga mengawal perubahan melalui pemikiran, aksi, dan kontribusi yang bertanggung jawab. 

Pembekalan kemudian berlanjut melalui sesi One Man Show Smart Finance, Strong Future bersama Nadia Amalia Sekarsari, Vice President Cash Management PT Bank BCA Syariah. Dalam sesi tersebut, Nadia mengajak mahasiswa memandang kesuksesan tidak hanya dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan membangun kesejahteraan secara menyeluruh yang mencakup aspek finansial, sosial, dan kesehatan mental.

Ia mendorong mahasiswa untuk mulai menyusun perencanaan keuangan sejak dini, memperluas jejaring profesional, serta aktif mencari pengalaman melalui organisasi, kompetisi, maupun magang selama menjalani perkuliahan.

“Jangan menabung dari sisa pengeluaran. Sisihkan tabungan terlebih dahulu, lalu kelola kebutuhan dari anggaran yang tersisa. Kebiasaan sederhana itu akan membentuk disiplin finansial di masa depan,” ujar Nadia.

Rangkaian Orange FEM 2026 kemudian ditutup melalui sesi bersama Keluarga Alumni Fakultas Ekonomi dan Manajemen (KA-FEM). Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai bentuk dukungan alumni, mulai dari pendampingan karier, pengembangan jejaring profesional, hingga program beasiswa yang dapat dimanfaatkan selama menjalani studi di Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University.

Melalui keseluruhan rangkaian tersebut, Orange FEM 2026 tidak hanya menjadi momentum pengenalan lingkungan fakultas, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang membekali mahasiswa baru dengan resiliensi, kepedulian sosial, literasi finansial, serta kesiapan menghadapi dunia profesional.

Sejalan dengan semangat kegiatan, mahasiswa FEM IPB angkatan 62 diharapkan mampu menjalani masa perkuliahan sebagai proses untuk terus bertumbuh, berani mengambil peluang, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat serta masa depan Indonesia. (RO/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *