Pembelajaran Tak Lagi Sekadar Hafalan, Inkuiri Kian Didorong
Saat ini semakin banyak sekolah dan orang tua mencari pendekatan pembelajaran yang dapat mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang semakin saling terhubung.(Dok. IB World Schools)

PENDEKATAN pembelajaran yang mendorong siswa aktif bertanya, menyelidiki persoalan, dan mengembangkan pemikiran secara mandiri mulai mendapat perhatian lebih besar di tengah perubahan kebutuhan pendidikan. Sekolah dan orang tua tidak hanya mempertimbangkan capaian akademik, tetapi juga kemampuan siswa berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Perkembangan tersebut antara lain terlihat dari bertambahnya sekolah yang menerapkan program International Baccalaureate (IB) di Indonesia. Hingga saat ini, jumlah IB World Schools di Indonesia telah mencapai 80 sekolah, meningkat dari sebelumnya yang berada di kisaran 70 sekolah.

Senior IB World Schools Manager, Asia Pacific, Florian Baciu, mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam dunia pendidikan. Menurut dia, semakin banyak sekolah dan orang tua mencari pendekatan pembelajaran yang dapat mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang semakin saling terhubung.

“Pertumbuhan ini menunjukkan adanya pergeseran menuju pendekatan pembelajaran yang mempersiapkan siswa untuk dunia yang semakin terkoneksi, tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi,” ujar Florian.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan komunikasi telah membuat batas geografis semakin mengecil. Karena itu, siswa membutuhkan kompetensi yang lebih luas daripada sekadar penguasaan materi pelajaran.

Komunitas sekolah di berbagai negara, termasuk Indonesia, mulai mengadopsi pendekatan yang membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan pola pikir untuk melanjutkan pendidikan sekaligus menghadapi kehidupan di luar sekolah.

Salah satu karakteristik pendidikan IB adalah pendekatan inquiry-based learning atau pembelajaran berbasis inkuiri. Dalam pendekatan ini, siswa didorong untuk aktif bertanya, menyelidiki berbagai gagasan, serta berpikir secara mandiri dan kritis terhadap lingkungan di sekitarnya.

“Alih-alih hanya menghafal informasi, siswa didorong untuk berkolaborasi, mengomunikasikan ide-ide mereka, dan menerapkan pembelajaran dalam konteks dunia nyata,” kata Florian.

Pendekatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk membangun fondasi akademik, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang berkaitan dengan persoalan di lingkungan sekitar.

Pada jenjang Primary Years Programme (PYP), misalnya, siswa menyelesaikan PYP Exhibition sebagai proyek akhir. Mereka memilih isu yang dianggap penting dan mengambil tindakan nyata di masyarakat. Sementara pada Middle Years Programme (MYP) terdapat Personal Project dan Community Project. Pada Diploma Programme (DP), siswa menjalankan Creativity, Activity, Service (CAS).

“Kami sengaja membangun tahapan pembelajaran yang mendorong tindakan dan dampak di luar sekolah. Tujuannya agar siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga mampu membuat perubahan di komunitas mereka,” jelas Florian.

Ia mengatakan banyak sekolah IB di Indonesia mengintegrasikan program IB dengan kurikulum nasional. Ia melihat adanya keselarasan antara tujuan pendidikan nasional, khususnya Profil Pelajar Pancasila, dengan profil pembelajar IB. Keduanya sama-sama menekankan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, serta pemahaman terhadap keberagaman global.

“Pendekatan pembelajaran berbasis inkuiri membantu siswa memahami tantangan dunia nyata secara lebih mendalam. Justru melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar, siswa dapat mencapai prestasi akademik yang tinggi,” ujarnya.

Menurut Florian, pembelajaran yang berpusat pada siswa juga penting karena setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Pendekatan tersebut memberikan ruang agar setiap individu dapat mengembangkan potensi akademiknya secara optimal.

Capaian akademik tetap menjadi salah satu pertimbangan dalam pendidikan. Florian mengatakan IB Diploma merupakan salah satu kualifikasi yang diakui secara internasional untuk masuk perguruan tinggi.

Namun, ia menekankan tujuan pendidikan IB tidak semata-mata mengarahkan seluruh siswa menuju universitas bergengsi. Dengan jaringan lebih dari 6.000 sekolah di 160 negara, program IB memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk menyesuaikan penerapannya dengan visi dan kebutuhan komunitas masing-masing.

“Ada sekolah yang berfokus pada akses ke universitas-universitas terbaik di dunia, tetapi ada juga yang menitikberatkan pada isu lingkungan, pengabdian masyarakat, pendidikan berbasis nilai, atau pelestarian budaya lokal,” katanya.

Kompetensi yang dibutuhkan di era AI

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu tantangan baru dalam dunia pendidikan. Teknologi dapat menyediakan informasi dalam hitungan detik, sehingga kemampuan siswa dalam menilai dan menggunakan informasi secara tepat menjadi semakin penting.

Florian menilai kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, fleksibilitas, dan kemampuan belajar sepanjang hayat akan semakin dibutuhkan.

“Yang tidak dapat dilakukan AI adalah human judgment. Karena itu, siswa membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan. Mereka perlu mampu berpikir mandiri, menghadapi tantangan nyata, dan menggunakan teknologi secara bijaksana,” ujarnya.

Florian mengatakan IB terus mengembangkan pendekatan pembelajarannya agar tetap relevan dengan perubahan zaman, sembari mempertahankan pendidikan karakter sebagai bagian penting dari proses pembelajaran.

Hampir lima dekade di Indonesia

IB telah hadir di Indonesia sejak 1978 dan terus memperluas jangkauannya ke berbagai kategori sekolah. Pertumbuhan jumlah IB World Schools menjadi salah satu perkembangan dalam penerapan pendekatan pendidikan tersebut di Indonesia.

Florian menegaskan, pengembangan IB di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga upaya mempersiapkan generasi muda agar mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

“Yang penting bagi kami adalah keberagaman, pengetahuan, dan potensi yang dibawa siswa ke sekolah dapat dimanfaatkan untuk masa depan Indonesia. Kami ingin terus bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Indonesia agar para siswa dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih baik dan lebih damai,” pungkasnya. (E-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *