
TIDUR malam yang cukup dan berkualitas sangat krusial bagi tumbuh kembang remaja. Namun, bagi remaja yang mengidap Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), memejamkan mata dan tertidur pulas di malam hari kerap menjadi perjuangan yang sangat berat. Banyak orangtua menganggap kebiasaan begadang anak sebagai bentuk ketidakdisiplinan, padahal penelitian medis menunjukkan adanya faktor neurobiologis yang kompleks di balik masalah tidur ini.
Para ahli kesehatan mental dan tidur menjelaskan hubungan antara ADHD dan gangguan tidur sangat erat. Salah satu pemicu utamanya adalah keterlambatan ritme sirkadian, jam biologis internal yang mengatur siklus bangun dan tidur. Pada remaja dengan ADHD, fase pelepasan hormon melatonin (hormon pemicu rasa kantuk) sering kali tertunda hingga dua jam dibandingkan remaja pada umumnya. Hal ini membuat tubuh mereka secara alami belum merasa mengantuk meski hari sudah sangat larut.
Selain faktor jam biologis, kondisi otak penderita ADHD yang terus aktif (hyperactive brain) turut mempersulit proses relaksasi. Saat malam hari tiba dan suasana menjadi tenang, pikiran remaja dengan ADHD justru sering kali dipenuhi lonjakan gagasan, rasa cemas, atau kekhawatiran yang menumpuk dari aktivitas harian. Kondisi mental yang belum ‘istirahat’ ini membuat tubuh menolak untuk berbaring diam.
Penggunaan obat-obatan medis untuk terapi ADHD juga dapat memberikan dampak samping terhadap kualitas tidur. Obat golongan stimulan yang biasa dikonsumsi untuk meningkatkan fokus di siang hari dapat bertahan dalam sistem tubuh hingga malam hari, sehingga menunda rasa kantuk jika dikonsumsi terlalu sore.
Tak hanya itu, penggunaan perangkat elektronik seperti ponsel pintar dan komputer menjelang waktu tidur semakin memperburuk keadaan. Paparan cahaya biru (blue light) dari layar gawai terbukti menekan produksi melatonin, sementara stimulasi konten digital membuat otak penderita ADHD semakin terangsang dan terjaga.
Dampak dari kurang tidur kronis pada remaja dengan ADHD tidak boleh disepelekan. Efek domino yang ditimbulkan meliputi peningkatan emosionalitas, penurunan daya ingat, kesulitan konsentrasi di sekolah, hingga memperburuk gejala utama ADHD itu sendiri di siang hari.
Untuk membantu remaja ADHD mendapatkan istirahat yang cukup, para pakar menyarankan orang tua untuk menerapkan kebiasaan tidur (sleep hygiene) yang konsisten. Langkah-langkah yang dianjurkan antara lain menetapkan jadwal tidur dan bangun yang sama setiap hari, mematikan gawai setidaknya satu jam sebelum tidur, menciptakan suasana kamar yang gelap dan sejuk, serta berkonsultasi dengan dokter terkait penyesuaian waktu minum obat ADHD. (Parents/Z-2)
