
Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) menyampaikan sikap resmi terkait polemik yang berkembang di masyarakat mengenai lamanya penanganan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) serta unggahan seorang dokter di media sosial yang dinilai kurang berempati dan memicu kritik publik.
Dalam pernyataannya, MGBKI mengungkapkan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut sekaligus mengajak seluruh pihak menjadikannya sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan, etika profesi, serta sistem layanan gawat darurat di Indonesia.
Sampaikan Duka dan Keprihatinan
MGBKI menyampaikan belasungkawa kepada keluarga pasien yang mengalami musibah. Organisasi tersebut menegaskan bahwa setiap nyawa memiliki nilai yang sama sehingga pelayanan kesehatan harus selalu mengedepankan keselamatan dan kemanusiaan.
Menurut MGBKI, pengalaman menunggu penanganan dalam kondisi kritis di IGD merupakan situasi yang berat, baik bagi pasien maupun keluarga. Karena itu, mereka berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Ingatkan Dokter Menjaga Empati dan Profesionalisme
MGBKI menegaskan bahwa profesi dokter dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan, seperti altruisme, empati, dan penghormatan terhadap martabat setiap pasien.
Nilai tersebut, menurut MGBKI, telah menjadi bagian dari pendidikan kedokteran di Indonesia yang kini menerapkan pendekatan patient-centered learning atau pembelajaran yang berpusat pada pasien.
Karena itu, seluruh dokter diingatkan untuk tetap menjaga integritas dan marwah profesi, termasuk ketika menghadapi tekanan pekerjaan, kelelahan, maupun kondisi burnout.
MGBKI menilai setiap tenaga medis harus mampu mengendalikan diri dan menggunakan saluran komunikasi yang santun serta mengedepankan empati, baik saat memberikan pelayanan maupun ketika berinteraksi di ruang publik.
Tekankan Pentingnya Etika Bermedia Sosial
Dalam pernyataannya, MGBKI juga menyoroti pentingnya etika dokter saat menggunakan media sosial.
Menurut organisasi tersebut, media sosial merupakan ruang publik sehingga setiap dokter perlu mematuhi pedoman etika yang telah ditetapkan organisasi profesi, termasuk menjaga kerahasiaan pasien, menyampaikan informasi berbasis bukti ilmiah, serta menghindari unggahan yang bernada merendahkan atau tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat.
Selain itu, MGBKI mengingatkan bahwa pelayanan kesehatan harus diberikan secara setara kepada seluruh pasien tanpa membedakan latar belakang maupun status pembiayaan, termasuk peserta BPJS Kesehatan.
Persoalan IGD Dinilai Bersifat Sistemik
MGBKI menilai persoalan antrean panjang dan penumpukan pasien di IGD tidak dapat dipandang hanya dari sisi individu tenaga kesehatan.
Menurut mereka, kondisi tersebut merupakan persoalan sistemik yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keterbatasan fasilitas kesehatan, jumlah tenaga medis, sistem rujukan, hingga tingginya jumlah pasien di rumah sakit rujukan.
Untuk itu, MGBKI mendorong berbagai langkah perbaikan, antara lain penyempurnaan tata kelola rumah sakit, optimalisasi sistem triase dan alur pelayanan IGD, penguatan infrastruktur kesehatan oleh pemerintah, pemerataan fasilitas kesehatan, serta penyempurnaan sistem rujukan nasional.
Organisasi tersebut juga mengajak kalangan akademisi dan pakar kesehatan untuk berkontribusi dalam penyusunan rekomendasi kebijakan guna memperkuat sistem pelayanan kesehatan nasional.
Minta Dugaan Pelanggaran Etika Diproses Sesuai Mekanisme Profesi
MGBKI turut menyoroti respons sejumlah pihak terhadap dugaan pelanggaran etika dokter di media sosial.
Menurut mereka, setiap dugaan pelanggaran etika sebaiknya diproses melalui mekanisme organisasi profesi dan institusi yang berwenang, bukan melalui penghakiman langsung di ruang publik.
MGBKI juga menilai wacana pencabutan Surat Tanda Registrasi (STR) dokter sebagai bentuk sanksi atas dugaan pelanggaran etika perlu dikaji secara hati-hati sesuai kewenangan yang berlaku.
Organisasi tersebut berpandangan bahwa pembinaan merupakan langkah yang lebih tepat dalam menangani persoalan etika profesi, dengan tetap menjunjung tinggi marwah profesi sekaligus melindungi kepentingan pasien dan masyarakat.
Ajak Jadikan Momentum Perbaikan
Di akhir pernyataannya, MGBKI mengajak seluruh dokter menjadikan polemik ini sebagai bahan refleksi untuk memperkuat semangat kemanusiaan, empati, dan solidaritas antarsejawat.
MGBKI juga mengharapkan dukungan masyarakat agar tenaga kesehatan dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan serta memberikan layanan kesehatan yang profesional, beretika, dan berorientasi pada keselamatan pasien. (Z-4)
