Pendapatan SpaceX Melonjak tapi Pengeluaran Membengkak
SpaceX merilis laporan bisnis kuartalan pertamanya pasca-IPO. Meski pendapatan naik 92%, melonjaknya pengeluaran buat saham SpaceX merosot 9%.(SpaceX)

SPACEX resmi merilis laporan bisnis kuartalan pertamanya sejak mulai melantai di bursa saham Amerika Serikat pada Juni lalu. Laporan perusahaan yang dipimpin Elon Musk tersebut menunjukkan lonjakan pendapatan hampir dua kali lipat, meski diikuti pembengkakan biaya pengeluaran yang sangat signifikan.

Perusahaan pembuat roket luar angkasa, satelit internet Starlink, sekaligus pemilik platform media sosial X ini mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 92 persen menjadi US$7,8 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun, pengeluaran SpaceX melonjak lebih dari 550% menjadi US$18,3 miliar, menambah rugi bersih sebesar US$2 miliar selama enam bulan pertama tahun ini.

Akibat laporan tersebut, saham SpaceX merosot hampir 9% pada perdagangan pascamengutip (after-hours trading). Dalam panggilan telepon bersama para analis keuangan dan investor, Elon Musk menilai publik terlalu meremehkan potensi SpaceX.

Musk menyoroti Starlink sebagai satu-satunya unit bisnis perusahaan yang saat ini mencetak keuntungan, dengan menyumbang pendapatan sebesar 1,6 miliar dolar AS pada kuartal kedua. Ia memprediksi lini bisnis tersebut akan tumbuh secara eksponensial di masa mendatang.

“Bukan hal yang tidak mungkin bahwa, pada satu titik nanti, Starlink akan mengoperasikan sebagian besar internet dunia,” ujar Musk.

Selain Starlink, Musk mengungkapkan potensi pertumbuhan pesat dari lini bisnis baru SpaceX, yaitu penjualan daya komputasi untuk proyek kecerdasan buatan (AI) kepada perusahaan lain seperti Google dan Anthropic. Lini bisnis AI SpaceX ini mencatatkan pendapatan US$2,5 miliar meski masih merugi US$1,2 miliar pada kuartal tersebut.

Saat ini SpaceX memiliki daya komputasi sebesar 1,4 gigawatt dan ditargetkan mencapai setidaknya 10 gigawatt tahun depan melalui pembangunan pusat data.

“Pusat data adalah masalah sepele dibandingkan membuat roket yang dapat digunakan kembali,” tutur Musk.

Pembuatan roket tetap menjadi bisnis inti SpaceX, namun segmen ruang angkasa ini mencatatkan rugi bersih sebesar US$542 juta dari pendapatan US$962 juta pada kuartal kedua. Kepala Keuangan SpaceX, Bret Johnson, menyampaikan belanja modal perusahaan akan berlanjut pada level yang “sangat serupa” hingga akhir tahun.

Meski demikian, Musk optimistis SpaceX dapat mencapai target pendapatan US$1 triliun pada 2030, lebih cepat satu tahun dari perkiraan sebelumnya.

Pasca-IPO yang memecahkan rekor dan sempat melampaui kapitalisasi pasar perusahaan raksasa seperti Microsoft dan Amazon, SpaceX kini berjuang mempertahankan antusiasme investor. Harga sahamnya terus menurun secara bertahap dari level tertinggi US$176 pada Juni lalu, dan selama beberapa pekan terakhir diperdagangkan di bawah harga perdana sebesar US$135 per saham. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *