Hasil Restorasi Terumbu Karang di Bontang Dibawa ke Forum Konservasi Dunia
Proses konservasi terumbu karang di perairan Bontang.(Antara)

Program rehabilitasi terumbu karang seluas 2,23 hektare di kawasan Tebok Batang, Kota Bontang, Kalimantan Timur, dipresentasikan dalam 16th International Coral Reef Symposium (ICRS) yang berlangsung di Auckland, Selandia Baru, pada 19-24 Juli 2026. Program konservasi tersebut telah dijalankan secara berkelanjutan sejak 2011 dan menjadi salah satu praktik restorasi ekosistem pesisir yang dibagikan kepada komunitas internasional.

Perwakilan delegasi, Astri Agustina, mengatakan rehabilitasi dilakukan menggunakan tiga tipe modul terumbu buatan, yakni Pyramid, Cube, dan Dome. Menurutnya, desain tersebut mampu mendukung pertumbuhan karang sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati di kawasan rehabilitasi.

Program restorasi dikembangkan melalui pembangunan terumbu buatan, transplantasi karang, pemberdayaan masyarakat pesisir, serta pemantauan aspek ekologi dan sosial secara berkelanjutan. Inisiatif tersebut berawal dari kerusakan lebih dari 50% terumbu karang di perairan Bontang akibat praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Hingga 2025, kawasan rehabilitasi telah mencatat keberadaan 57 famili ikan karang dan 69 genus karang. Dari total area seluas 10 hektare yang memperoleh Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL), rehabilitasi telah dilakukan pada lahan seluas 2,23 hektare.

Menurut Astri, Tebok Batang kini berkembang menjadi model konservasi berbasis kolaborasi yang tidak hanya berfokus pada pemulihan ekosistem laut, tetapi juga melibatkan masyarakat pesisir melalui pembangunan terumbu buatan, penenggelaman modul, hingga pemantauan berkala.

“Keberhasilan restorasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga kesinambungan pemantauan serta adaptasi pengelolaan berdasarkan hasil evaluasi lapangan,” ujar Astri.

ICRS 2026 diikuti lebih dari 2.100 delegasi dari 90 negara yang terdiri atas ilmuwan, akademisi, praktisi konservasi, hingga pembuat kebijakan. Dalam forum tersebut dipaparkan dua karya ilmiah mengenai pendekatan restorasi terumbu karang yang mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, tata kelola, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Ke depan, program konservasi akan diperkuat melalui pengembangan coral nursery, konservasi padang lamun, serta perluasan kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, masyarakat, dan berbagai mitra strategis.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim Anggono Wijaya mengatakan keterlibatan perusahaan dalam forum tersebut merupakan bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 14 mengenai ekosistem laut.

“Kami percaya masa depan ekosistem laut tidak dapat dijaga oleh satu pihak saja. Karena itu, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menjaga kelestarian sumber daya laut,” kata Anggono. (Ant/E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *