
STRES merupakan kondisi yang dapat memengaruhi tubuh, pikiran, perasaan, dan perilaku. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai tekanan, seperti beban pekerjaan, masalah keuangan, maupun konflik dalam hubungan sosial, ketika seseorang merasa tuntutan yang dihadapi melebihi kemampuannya untuk mengatasinya.
Stress
Stress adalah kondisi dimana tubuh mengalami ancaman pada kenyataan dan psikolog. Menurut Global Autoimmune Institute, stres merupakan respons alami tubuh saat menghadapi ancaman atau tekanan, baik yang bersifat nyata maupun psikologis. Stres tidak selalu berdampak buruk.
Dalam kondisi tertentu, stres justru dapat membantu seseorang menjadi lebih fokus, waspada, atau termotivasi, misalnya saat akan tampil di depan banyak orang. Namun, ketika tekanan yang dihadapi melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya, stres dapat berubah menjadi negatif.
Pada kondisi ini, tubuh mengaktifkan respons “fight or flight”, yang ditandai dengan peningkatan denyut jantung, pernapasan yang lebih cepat, dan tekanan darah yang meningkat sebagai cara tubuh menghadapi ancaman.
Hubungan stress dan Autoimun
Menurut Global Autoimmune Institute menjelaskan bahwa stres tidak hanya dapat menjadi pemicu munculnya penyakit autoimun pada sebagian orang yang memiliki kerentanan, tetapi juga dapat memperburuk gejala penyakit yang sudah ada.
Bahkan, sekitar 80 persen pasien melaporkan mengalami tekanan emosional yang tidak biasa sebelum gejala penyakit mulai muncul.
Peneliti juga menggambarkan adanya hubungan timbal balik, yakni penyakit autoimun dapat menimbulkan stres, sementara stres yang berkepanjangan berpotensi memperburuk kondisi penyakit.
Stres berkepanjangan juga dapat memengaruhi kesehatan secara menyeluruh, baik secara fisik, emosional, maupun perilaku, antara lain:
- Fisik: sakit kepala, nyeri atau ketegangan otot, nyeri dada, mudah lelah, gangguan tidur, sakit perut, hingga sistem kekebalan tubuh menjadi lebih lemah sehingga tubuh lebih mudah terserang penyakit.
- Emosional: kecemasan, sulit berkonsentrasi, mudah marah, merasa kewalahan, hingga sedih atau depresi.
- Perilaku: pola makan berubah, lebih jarang berolahraga, menghindari lingkungan sosial, serta meningkatnya risiko penggunaan rokok, alkohol, atau zat adiktif lainnya.
Beberapa Penyakit Autoimun yang Dikaitkan dengan Stres
Global Autoimmune Institute menyebutkan bahwa stres telah dikaitkan dengan beberapa penyakit autoimun, di antaranya:
- Rheumatoid arthritis (RA): stres dapat memperburuk nyeri, pembengkakan, dan kekakuan pada sendi sehingga gejala menjadi lebih sulit dikendalikan.
- Lupus eritematosus sistemik (SLE): stres dikaitkan dengan meningkatnya kekambuhan gejala, termasuk nyeri dan gangguan tidur.
- Multiple sclerosis (MS): beberapa penelitian menunjukkan stres dapat memperburuk perjalanan penyakit, dan sekitar 80 persen pasien melaporkan mengalami stres yang tidak biasa sebelum gejala muncul.
- Inflammatory bowel disease (IBD): termasuk penyakit Crohn dan kolitis ulseratif, di mana stres dapat meningkatkan frekuensi kambuhnya gejala.
- Penyakit Graves: hormon stres diduga berperan dalam proses terjadinya gangguan pada kelenjar tiroid.
- Diabetes tipe 1: stres dapat menyebabkan kadar gula darah lebih sulit dikendalikan sehingga kebutuhan insulin dapat meningkat.
- Psoriasis: stres menjadi salah satu pemicu kekambuhan yang dapat memperparah peradangan dan rasa gatal pada kulit.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres dapat berperan sebagai pemicu maupun faktor yang memperburuk penyakit autoimun pada individu yang rentan.
Karena itu, menjaga kesehatan mental melalui pengelolaan stres, istirahat yang cukup, pola makan seimbang, aktivitas fisik, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan saat diperlukan menjadi langkah penting untuk mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Sumber: Global Autoimmune Institute, Mayo clinic, Cleveland Clinic
