
UPAYA memperkuat daya saing ekonomi nasional tidak cukup hanya mengandalkan sektor manufaktur dan hilirisasi. Indonesia juga didorong memaksimalkan potensi jalur pelayaran internasional yang melintasi wilayahnya dengan membangun pelabuhan hub bertaraf global di kawasan Sumatera, sehingga mampu menjadi pusat logistik dan industri baru yang menopang pertumbuhan ekonomi.
Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono menyampaikan Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan sektor maritim sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya di sepanjang Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I yang menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Menurutnya, Indonesia memiliki garis pantai sekitar 800 kilometer yang berada di sepanjang ALKI I. Angka itu jauh lebih panjang dibandingkan dengan Singapura yang hanya memiliki sekitar 15 kilometer, Malaysia sekitar 350 kilometer, dan Thailand sekitar 150 kilometer.
“Kalau kita melihat jumlah kapal yang lewat di ALKI I, ada sekitar 110 ribu kapal dengan mengangkut sekitar 100 juta kontainer per tahun. Ini sebenarnya merupakan satu peluang, yakni peluang Indonesia yang paling banyak. Karena paling panjang yang dilewati pesisirnya,” ujar Bambang Haryo, Sabtu (1/8/2026).
Ia menjelaskan Singapura mampu memanfaatkan posisi strategisnya dengan panjang pantai relatif pendek untuk menangani sekitar 50 juta kontainer setiap tahun. Adapun Malaysia melalui Pelabuhan Tanjung Pelepas, Port Klang, dan Penang mampu mengelola lebih dari 34 juta kontainer per tahun. Thailand juga berhasil mengambil pangsa sekitar 12 juta kontainer setiap tahunnya.
Sebaliknya, Indonesia baru mampu menangani sekitar 2 juta kontainer dari aktivitas pelayaran internasional di ALKI I. Kapasitas pelabuhan yang masih terbatas membuat sebagian besar kapal internasional memilih singgah di negara tetangga untuk melakukan bongkar muat, pengisian bahan bakar, dan perawatan kapal.
“Sayangnya, Indonesia belum memiliki pelabuhan internasional yang memadai mampu mengambil peluang itu. Bahkan barang logistik diangkut dari Jakarta ke Singapura dengan menggunakan kapal asing. Singapura jadi hub bagi kapal-kapal dan logistik dari Indonesia,” katanya.
Bambang menilai kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk membangun pelabuhan hub internasional di kawasan strategis seperti Lhokseumawe, Aceh, dan Dumai, Riau. Kedua wilayah itu memiliki posisi geografis yang sangat dekat dengan jalur pelayaran internasional serta didukung potensi sumber daya alam melimpah.
Menurutnya, pembangunan pelabuhan modern harus dibarengi penyediaan alat bongkar muat berkapasitas tinggi, konektivitas transportasi darat, dan pengembangan kawasan industri terintegrasi.
Ia meyakini langkah tersebut dapat menarik investasi industri dari Eropa dan Asia Timur yang ingin menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan pusat distribusi ke berbagai negara.
“Karena kita tahu Sumatera memiliki sumber daya alam sebagai penopang industri, misalnya minyak, gas yang terbesar bahkan di dunia, bijih besi, nikel, aluminium, timah, batu bara, dan lain-lain sehingga memungkinkan hub industri dan sekaligus hub laut bisa berkembang cepat karena dukungan bahan baku untuk kebutuhan industri,” ujarnya.
Bambang juga mengingatkan peluang ekonomi di ALKI tak dapat diperoleh melalui penarikan retribusi kapal yang melintas. Menurutnya, jalur ALKI telah diatur dalam ketentuan internasional sehingga kapal asing memiliki hak lintas dan transit tanpa dikenakan biaya.
Ia menegaskan strategi yang lebih realistis adalah membangun pusat logistik dan pelabuhan internasional yang mampu menarik kapal untuk bersandar secara sukarela karena layanan yang kompetitif.
Untuk mendukung pengembangan itu, Bambang turut mendorong percepatan pembangunan jalur Kereta Api Trans Sumatera yang masih menyisakan sekitar 1.200 kilometer. Infrastruktur tersebut penting agar pelabuhan hub di Aceh dan Sumatera Utara terhubung langsung dengan kawasan industri dan pusat produksi di berbagai daerah.
Selain itu, menurut dia, pengembangan kawasan industri di Aceh tetap dapat berjalan berdampingan dengan penerapan syariat Islam melalui pembentukan kawasan ekonomi khusus yang dirancang tanpa mengganggu kearifan lokal masyarakat.
Bambang berharap pembangunan pelabuhan hub internasional, kawasan industri, serta jaringan logistik nasional dapat dipercepat pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sehingga Indonesia mampu memanfaatkan posisi strategisnya sebagai poros maritim dunia sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya persaingan perdagangan global. (H-2)
